RAHASIA PELANGI

Rahasia Pelangi

Oleh: Riawani Elyta & Shabrina Ws
ISBN: 9797808203
Rilis: 2015
Halaman: 336
Penerbit: GagasMedia
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

“Katamu, ada pelangi setelah hujan.
Kau hadir, mengulurkan tanganmu.
Ajak aku melangkah, bersamamu.
Bisakah cinta menghilangkan rasa takut?
Juga memupuk rindu
yang mulai bertunas di hati?

Sepertimu, Anjani dan Rachel juga mencari cinta.
Namun, mereka tak pernah menduga
ternyata cinta segelap hutan di tengah malam.
Sementara bagi laki-laki itu,
ia baru menyadari
bahwa hidup ternyata seperti hutan.
Jika tak hati-hati, banyak ranting
yang akan membuatmu luka.
Dalam gelap hutan,
akankah pelangi terlihat sama indahnya?

Review

“Alam memberi banyak hal daripada yang ia dapatkan. Sementara, kita mencari banyak alasan untuk memberi pada alam.” (hal.7) Quote pada awal bab di novel Rahasia Pelangi ini, menggambarkan tentang betapa egoisnya manusia dalam menjaga alam dan pemanfaatannya. Manusia lebih sering memanfaatkan alam dengan sesuka hati tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi selain pada kehidupan makhluk yang lain. Padahal seharusnya, manusia sadar. Mereka hidup di dunia ini tidak sendirian. Ada makhluk lain yang juga tumbuh di alam.

Seperti isu konflik yang terjadi antara Gajah dan manusia pernah terjadi di Riau. Konflik ini tidak mungkin terjadi jika manusia tidak memulai masalah terlebih dahulu. Semua bermula dari manusia yang merusak habitat kehidupan Gajah sehingga mereka marah dan mencoba memasuki perkampungan. Isu konflik ini kemudian diramu dengan baik oleh Riawany Elyta dan Shabrina WS dalam sebuah novel.

Novel ini menceritakan tentang Anjani yang memiliki trauma pada Gajah. (hal.3) Namun perjalanan waktu malah membuat dia terjun pada pekerjaan yang tidak terduga. Anjani menjadi Mahout—penjaga gajah. Sebuah pekerjaan yang menurut orangtua Ajani bukan pekerjaan yang membanggakan. Sebelum Anjani benar-benar menjadi mahout, dia pernah mendapat pelatihan di Way Kambas. Dia dilatih oleh Chayood Pratham, mahout dari Thailand. Seorang mahout yang tidak pernah menggunakan gancu—tongkat pengait. Karena mahout ini memiliki pemikiran seperti kakeknya, “Kalau diperintahkan dengan suara dan tepukan sudah menurut, kenapa kita harus menggunakan cara yang kasar? Gancu dan rantai memang biasa digunakan untuk mengendalikan gajah, tapi tidak harus. Kuncinya dengan hati.”(hal.48-49)

Dan tanpa diduga Anjani dan Chay bertemu lagi ketika ditugaskan di TNTN ( Taman Nasional Tesso Nilo) Di sana Anjani melatih gajah bernama Beno dan Chay menjaga Indro. Karena sering menjaga gajah bersama-sama, Anjani dan Chay pun menjadi dekat. Mereka saling memerhatikan satu sama lain. Dan kedekatan mereka semakin terlihat ketika tidak sengaja mereka terjebak pada saat mengatasi seekor gajah bernama Rubi yang melahirkan.

Ada juga Rachel, gadis yang sangat mencintai alam. Dia bekerja di CWO—Change World Organization. Dia sangat aktif, supel, ramah namun sedikit ceroboh. Bersama Ebi dia ditugaskan untuk Progam Forest Camps di TNTN. Kedatangan Rachel membuat Anjani sedikit terganggung karena gadis itu terlihat langsung akrab dengan Chay. Mereka bisa berbicara dengan akrab dalam waktu yang relatif dekat. Bahkan mereka juga bermain bersama dengan Indro. Gajah yang terkenal paling galak bisa dengan mudah diarahkan oleh Rachel. (hal. 102) Dan yang lebih membuat Anjani sedih adalah, ketika Rachel yang hampir jatuh dari Indro dengan cepat ditangkap Chay.

Namun dengan baik, Anjani yang memang memiliki sikap introvent menyembunyikan perasaannya. Kesedihan itu terkubur bersama banyaknya kegiaatan yang harus dilakukan. Apalagi ada sebuah berita mengatakan bahwa ada penyerangan lagi yang dilkukan gajah ke perkampungan warga. Sehingga warga meminta tolong pada tim Fling Squad—Tim Patroli Gajah Latih. Tapi dalam patroli malah terjadi sebuah kecelakan yang tidak terduga hingga Rachel menjadi korban. (hal. 151)

Untuk kelanjutan kisahnya, bisa langsung dibaca di buku ini. Entah apa yang akan terjadi pada Rachel selanjutnya. Juga tentang bagaimana perasaan Anjani dan apakah Chay memiliki perasaan yang sama padanya atau pada Rachel?

Sebuah novel yang dikemas apik dengan bahasa ringan dan mudah dicerna. Setting dalam novel ini diceritakan dengan menarik. Membuat pembaca seolah ikut menyatu dalam cerita. Novel ini mengajak kita kembali ke alam. Mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan gajah. Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi habitat mereka dan apa yang harus dilakukan untuk melestarikan alam. Bahwa segala kekacauan yang terjadi bisa jadi semua itu bermula dari ulah manusia yang terlalu serakah.

Selain itu, novel ini juga mengajarkan untuk menghadapi segala masalah dengan pikiran terbuka, bukan malah cepat menyerah. Dan mengajarkan tentang, hakikat cinta yang termaktub dalam sebuah quote manis. “Cinta bukan seberapa banyak kau mengatakan, melainkan sejauh mana kau membuktikan.” (hal. 317)

Kelebihan novel ini adalah gaya penceritaan yang mudah dicerna, juga banyak bertebaran quote-quote yang menggugah jiwa disetiap pembuka bab. Hanya saja masih ditemukan beberapa typo. Serta adanya nama baru yang muncul mendadak pada saat Rachel sakit. Seseorang yang membuat penawaran. Kesannya tiba-tiba sekali. Karena pada awal-awal bab nama itu belum pernah muncul. Kalau pun ada petugas hanya diceritakan itu seorang pria.

Tapi lepas dari semua itu, buku ini tetap asyik dinikmati. Sebuah novel yang mengambil tema berbeda. Kita disuguhi cerita tentang kepedulian pada lingkungan alam—khusunya gajah, namun juga tentang kisah cinta. Di mana kisah cinta itu diramu dengan manis. Recomended.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<