Perfectly Imperfect

Perfectly Imperfect

Oleh: Alfiana Nufi
ISBN: 9786023752676
Rilis: 2015
Halaman: 160
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Ahn Ji-Hyun
Bukan keinginanku menjadi berbeda dari kebanyakan orang. Mata inilah yang
membuatku berbeda dan sumber dari segala kesengsaraan yang aku alami.
Sepasang mata dengan iris berlainan yang entah dari siapa aku mendapatkannya.
Tapi, pemuda itu berbeda dari kebanyakan orang. Bukannya menganggapku
aneh, dia malah menganggapku istimewa. Bolehkah aku berharap lebih padanya?

Park Jang-Woo
Bukan keinginanku berada di kota ini. Semua ini kulakukan demi mendapatkan
kepercayaan ayahku kembali. Aku hanya perlu bersikap baik selama tiga bulan
dan segera kembali ke Seoul. Tapi semua berubah saat aku menyelamatkan
seorang gadis dengan mata langka itu. Aku menjadi korban bullying berikutnya.
Mengapa banyak yang membencinya? Padahal dia memiliki sesuatu yang langka.

Review

Park Jang-woo adalah putra kedua dari Park Jung-min, seorang pemilik perusahaan properti bernama Daesan Group. Jang-woo punya seorang kakak bernama Park Ji-hoon. Ayah mereka sering membandingkan mereka berdua karena perilaku mereka memang jauh berbeda. Ji-hoon adalah anak yang penurut, pintar, tidak neko-neko, dan dapat mengemban tanggung jawab mengolah proyek perusahaan dengan baik. Sedangkan Jang-woo sering bolos kuliah, foya-foya di bar, dan suka membuat keonaran. Pada satu ketika, Jang-woo sudah begadang semalaman demi membuat proposal proyek yang diserahkan padanya. Sayangnya, ayahnya tidak percaya kalau proposal yang materinya bagus itu asli buatan Jang-woo. Ayahnya mengira kalau ide dari proposal itu masih ada campur tangan dari Ji-hoon. Jang-woo marah dan kecewa karena ayahnya masih saja tidak percaya padanya, ditambah lagi ia diputusi oleh pacarnya, Hye-rin, di pinggir sungai Han. Akhirnya Jang-woo menelepon temannya untuk minum dan pergi ke bar hingga mabuk berat.

“Memang awalnya sulit. Tapi kau sudah memilih jalan ini, Jang-woo. Tetaplah berusaha yang terbaik untuk membuktikan pada ayahmu bahwa kau mampu dan kau bisa.” — Hye-rin (h. 11)

Ayah Jang-woo menawarkan sebuah opsi bagi Jang-woo bila Jang-woo tetap ingin mendapatkan kepercayaannya. Ayahnya ingin Jang-woo bisa berubah lebih baik dan menghilangkan kebiasaan buruknya. Akhirnya Jang-woo setuju ‘dibuang’ selama 3 bulan saja ke Busan tanpa embel-embel nama besar Daesan Group dan sementara waktu harus menanggalkan kemewahan yang biasa ia nikmati selama ini.

“Bukankah kita takut berbeda dengan orang lain? Takut dianggap aneh, takut dianggap abnormal, asing, siluman, dan sebutan lainnya. Dan aku mengalaminya dari kecil.” — Ahn Ji-hyun (h. 38)

“Di mana pun di sudut kota ini, atau bahkan di negara ini, memang penampilan fisik yang utama, ya? Lebih baik miskin daripada jelek.” — Ahn Ji-hyun (h. 71)

Ahn Ji-hyun merupakan gadis berusia 19 tahun dan tinggal di Busan. Ia mempunyai perbedaan paling mencolok dari orang-orang kebanyakan. Warna iris mata Ji-hyun berlainan, yang kanan berwarna hazel sedangkan yang kiri keabu-abuan. Pipinya juga bercodet bekas luka yang pernah ia alami waktu kecil. Hal ini membuatnya sering di-bully oleh teman-temannya di jaman sekolah hingga rekan-rekannya sesama karyawan di kafe tempat ia bekerja sekarang. Seperti yang kita tahu bahwa kasus pem-bully-an di Korea memang sangat parah dan tidak tanggung-tanggung. Wanita di sana dituntut sempurna, sehingga jika punya kekurangan sedikit saja bisa langsung jadi bahan omongan.

Ji-hyun hanya bekerja sebagai cleaning service di kafe itu. Manajer Kang berbaik hati memberinya pekerjaan karena Ji-hyun hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Ji-hyun tidak pernah mengenal secara langsung siapa ayahnya karena ayah biologisnya sudah lama meninggalkan ibunya saat ia masih di kandungan.

Mi-young, Soo-yeon, dan Yoon-ji adalah musuh besarnya di kafe. Mereka bertiga ini kusebut sebagai trio macan yang paling sering menyiksa dan menjahili Ji-hyun. Mereka juga sering mengatai Ji-hyun “siluman” karena warna iris matanya yang aneh. Tapi, Ji-hyun tidak pernah melawan dan pasrah saja dikerjai oleh mereka, terlebih ia tidak berani melapor ke Manajer Kang karena tak mau merepotkannya. Ada pula Sung-jae yang menjadi interpretasi trio macan dalam wujud laki-laki di kafe itu. Ia sama licik dan jahilnya yang suka mengerjai pegawai baru yang ia tak suka. Tapi, di sana masih ada Ga-eun, Dong-won, dan Sang-woo yang masih berbaik hati mau berteman dan membantu dengan Ji-hyun.

“Kau pikir mata segaris dengan iris berbeda, pipi tembam bercodet, rambut ikal meriap, dan muka berminyak pantas menyambut tamu?” — Ahn Ji-hyun (h. 62)

Ji-hyun membenci ayahnya yang telah menurunkan mata siluman itu kepadanya sehingga membuat hidupnya makin tersiksa. Ji-hyun hanya pernah melihat sebuah foto ibunya, Ahn Ji-suk, dengan seorang lelaki bule bernama Andrew Wood yang punya mata sama dengannya. Ia mengira lelaki itulah ayahnya, tetapi ibunya tidak pernah benar-benar membicarakan siapa lelaki di foto itu sebenarnya.

Selama Jang-woo tinggal di Busan, ia tinggal di sebuah apartemen dari bangunan tua yang sederhana dan bekerja di Bookaholic Cafe dengan nama samaran Park Jae-ha. Mampukah Jang-woo menghadapi dan menjawab tantangan dari ayahnya dengan menetap dan bekerja sebagai orang biasa di Busan? Lalu, bagaimana dengan kelanjutan nasib Ji-hyun dan rekan kerjanya yang suka mem-bully?

Novel berbau Korea seperti ini memang tidak jauh dari kesan drama yang beneran deramah seperti yang sering muncul dalam serial drama Korea. Penggunaan POV 3 untuk novel ini pun sangat cocok karena pembaca jadi bisa mengetahui apa saja yang terjadi di luar pengamatan si tokoh utama. Tak lupa pula tentunya ada pesan yang bisa kita simpulkan sendiri setelah membaca novel ini, bahwa kesempurnaan secara fisik bukanlah segalanya, melainkan harus terpancar dari hati yang tulus.

Anyway, meski masih ada beberapa kekurangan di sana sini, saya tetap menyukai novel ini. Selama masih membacanya, rasanya belum rela untuk tidur kalau belum beres nyelesaiin sampai ending. Good job, Mbak Nufi. Nggak salah deh kalau naskah ini yang dipilih sama Grasindo. 😀

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<