O

Oleh: Eka Kurniawan
ISBN: 2010000942109
Rilis: 2016
Halaman: 496
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

“Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut”

Review

“Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.”

Begitulah kalimat yang tertulis di bagian belakang buku terbaru karya Eka Kurniawan ini. Tak ada keterangan lebih lanjut mengenai garis besar ceritanya. Judulnya pun pendek saja, hanya satu huruf.

Jadi, untuk kalian yang penasaran, buku ini bercerita tentang seekor monyet bernama O yang ditinggalkan oleh kekasihnya (yang juga monyet, tentu saja), Entang Kosasih. Dari habitat tempat O tinggal, ada legenda bahwa pernah hidup seekor monyet yang berhasil berubah menjadi manusia. Dan O meyakini kalau Entang Kosasih yang amat terobsesi dengan legenda tersebut telah berhasil menjadi manusia seperti yang selama ini Entang Kosasih impikan.

O pun percaya kalau Entang Kosasih masih menunggunya untuk berubah menjadi manusia dan mereka akan menikah pada bulan kesepuluh, seperti janji yang pernah diucapkan kekasihnya itu. Dengan tekad itu, O berkelana sampai ia bertemu dengan pawang topeng monyet, dan menjalani hidupnya dari seekor monyet bebas menjadi monyet untuk pertunjukan topeng monyet. Bagi O, topeng monyet akan mengajarinya untuk menjadi manusia seutuhnya. Masuk akal kan? Dari sana O diajari untuk bertingkah layaknya seorang manusia. Berjalan dengan dua kaki seperti manusia. Memperagakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia.

Suatu hari secara tak disengaja, O melihat foto dari seorang terkenal yang dikenal sebagai Kaisar Dangdut. Sejak pertama melihat foto itu, hati O berkata kalau Kaisar Dangdut adalah Entang Kosasih, kekasihnya yang telah berubah wujud menjadi manusia.

Benarkah Kaisar Dangdut adalah perwujudan manusia dari Entang Kosasih? Berhasilkah O berubah menjadi manusia?

“Bukan cinta yang membuat kita buta. Tapi keyakinan.”

Ucapan selamat dan salut rasanya harus saya berikan untuk penulis favorit saya ini. Bagaimana tidak, dalam buku terbarunya ini, Mas Eka Kurniawan mencoba hal yang baru dari tulisannya, menceritakan kisah dengan bermacam hewan sebagai karakter-karakter di dalamnya. Yah, memang saya pernah membaca cerpen beliau yang juga berkisah dari sudut pandang seekor bebek dan sebongkah batu, tapi tetap saja saya salut dengan Mas Eka yang menulis buku menakjubkan ini. Saya yakin tak mudah untuk secara konsisten mengemas cerita dari sudut pandang berbagai spesies hewan di dalam buku setebal hampir 500 halaman ini.

Dan seperti yang sudah diketahui selama ini, pantang bagi Mas Eka untuk bercerita hanya dari satu karakter tok, dalam buku ini ada banyak sekali karakter-karakter yang berebut untuk diceritakan kisahnya. Mulai dari hewan-hewan, manusia, bahkan sampai sebuah revolver dan kaleng sarden. Gilanya, kesemua cerita-cerita ini amat menarik, dan saling terkait satu sama lain.

Hal melenakan lain dari O adalah timeline-nya yang acak-adut. Kuat sekali kesannya kalau di buku ini sang penulis menulis dengan seenaknya. Agak sedikit membuat pusing memang timeline ceritanya yang kacau dan sesukanya ini. Tapi yang ini sensasi pusingnya beda, buktikan sendiri kalau tak percaya.

Selain unik karena bukunya tergolong fabel, ada hal lain yang membuat O agak berbeda dari novel-novel Mas Eka sebelumnya, di sini beliau menyisipkan sedikit konten agama, dan menurut saya O inilah karya beliau yang cukup aman, tidak terlalu vulgar. Jauh sekali jika dibanding “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang berlabel 21+. Kecuali kalau kamu menganggap narasi tentang hewan kawin termasuk ke dalam kategori vulgar :p

Saya akui saya pembaca yang belum terlalu melek sastra, tapi ada dua poin yang secara tersirat saya tangkap ketika membaca buku ini. Pertama, saya mikirnya kalau kisah O yang ingin menjadi manusia ini merupakan kritik sosial untuk keadaan masyarakat sekarang, di mana semua manusia diharuskan memakai topeng untuk dianggap sebagai manusia oleh manusia-manusia lain. Kedua, bahkan terkadang binatang pun bisa lebih manusiawi dari manusia sekalipun. Atau kebalikannya, bahkan manusia pun bisa lebih binatang dari binatang itu sendiri.

Tapi… karena kesempurnaan hanya milik Tuhan, tentu saja O tak lepas dari cela. Yang saya sayangkan sedikit sih sebenarnya. Pertama, buku ini merupakan bukunya Mas Eka Kurniawan yang paling banyak typo-nya. Mungkin pengaruh cetakan pertama juga kali ya? Soalnya buku-buku Mas Eka yang saya baca sebelumnya selalu cetakan kesekian. Selanjutnya, yaitu terlalu lamanya jeda di antara rangkaian kisah-kisahnya. Misalnya, ketika satu cerita diakhiri dengan gantung yang membuat penasaran, selanjutnya langsung disambung dengan cerita lain, atau lanjutan cerita lain, nah cerita ini nantinya akan merambat ke mana-mana, sebelum kembali lagi ke lanjutan cerita yang digantung tadi. Karena terlalu lama jedanya, jadi dibuat tidak penasaran lagi. Itu saja sih.

Secara keseluruhan, O tentu saja layak dibaca. Rangkaian kisah-kisah di dalamnya akan membuatmu tersenyum simpul, terenyuh, sampai geleng-geleng kepala. Jadi, tunggu apa lagi?

“Menjadi batu sering kali satu-satunya yang bisa dilakukan manusia. Lihatlah bongkah batu, yang sebesar rumah maupun sekecil kerikil. Mereka mungkin terlihat, tapi pada saat yang sama terabaikan. Mereka tampak kukuh, tapi pada saat yang sama diam. Batu tampak seperti gumpalan dunia di mana kehidupan berhenti di dalam dirinya sendiri, sementara dunia di luar dirinya bergerak dengan cepat.”

“Ada hal yang juga sabar mendekam: dendam. Ia bisa menyala berkobar membakar apa saja. Di lain waktu, ia barangkali hanya bara kecil yang terpendam. Dendam dilahirkan untuk sabar mendekam.”

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<