Le Mariage De Luxe: Not A Perfect Wedding

Le Mariage De Luxe: Not A Perfect Wedding

Oleh: Asri Tahir
ISBN: 9786020279312
Rilis: 2016
Halaman: 244
Penerbit: Elex Media Komputindo
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Raina Winatama:
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi :
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi :
Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.

 

Review

Raina adalah anak perempuan bungsu dari 3 bersaudara yang sebentar lagi akan menikah dengan Raka—kekasih yang amat dicintainya. Hidup Raina seakan sempurna. Ada Mama (Fara) dan Papa (Gunawan Winatama) yang sangat menyayanginya. Ada pula dua kakak lelakinya yakni Arman dan Pasha yang tak hentinya memanjakan Raina hingga sikap manja dan kekanak-kanakannya tidak bisa hilang hingga di usianya kini yang sudah menginjak 25 tahun.

Pram merupakan seorang lelaki matang dalam hal usia dan karirnya. Pria berusia 35 tahun dan masih betah malajang ini akhirnya kembali ke Indonesia setelah 7 tahun lamanya menetap di London. Keputusannya untuk pergi jauh dari Indonesia tak lain karena masa lalunya akibat sempat dikecewakan oleh seorang wanita yang amat dicintainya. Pram yang sudah sukses di London sebagai arsitek ternama akhirnya mau kembali ke Jakarta hanya demi menghadiri pernikahan Raka—adik kandungnya—dengan Raina.

“Lo harus kenal dia, Pram. Gue yakin kalau lo kenal sama dia duluan, lo juga pasti jatuh cinta sama dia.” – Raka (hlm. 3)

Tapi tenyata keputusan Pram untuk pulang ke Indonesia bukan hanya untuk menghadiri pernikahan adik satu-satunya. Justru ia yang harus menjadi si mempelai lelaki karena Raka mengalami kecelakaan tepat satu hari sebelum acara dilangsungkan. Raka yang sangat mencintai Raina hanya bisa mempercayakan Raina kepada Pram untuk dijaga dan disayangi. Ya, Raka meminta Pram untuk menikahi Raina, menggantikannya sebagai pengantin lelaki untuk acara besok karena Raka telah merasa hidupnya tak akan lama lagi.

“You know, Ka. You always be a part of my soul.” – Pram (hlm. 21)

Pram sudah terlanjur berjanji untuk memenuhi permintaan Raka demi rasa sayangnya pada adiknya itu. Ia yakin Raka bisa sembuh, tetapi di sisi lain ia pun tak mau mengecewakan adiknya jika itu benar menjadi permintaan terakhir Raka. Tidak ada yang memberi tahu Raina perihal kecelakaan ini. Tak dinyana, nyawa Raka tak terselamatkan. Sesuai janjinya, Pram bersedia menikahi Raina meski ia belum pernah bertemu sekali pun dengan Raina. Dari keluarga Rahardi yaitu Prasetyo Rahardi dan Anne—orangtua Pram dan Raka—serta keluarga Winata pun sudah menyetujui permintaan terakhir Raka itu. Pram akan menikahi Raina tanpa sepengetahuan Raina. Biarlah Raina tetap mengira bahwa Raka masih hidup.

Raina Winatama. Bahkan Pram tidak tahu bentuk muka, wajah dan segala sifat yang dimiliki gadis itu. Tapi di sinilah takdir berperan. Di sinilah Tuhan memegang kuasanya. Dia tidak pernah menyangka kepulangannya justru akan mengubah status hidupnya. – (hlm. 28)

Sudah bisa dibayangkan bagaimana nanti chaos-nya ketika Raina menyadari bahwa yang menikahinya bukanlah Raka, bagaimana terkejutnya ia bila mengetahui Raka telah tiada, dan betapa depresinya ia harus menerima kenyataan telah menjadi istri dari orang yang belum ia kenal dengan baik dan tidak pula ia cintai. Maka, akankah pernikahan Pram dan Raina hancur berantakan di tengah jalan sebelum mereka mencoba memulai? Ataukah mereka mau berusaha untuk membangun semuanya dari awal meski pun itu sulit?

***

Tidak ada kebahagiaan yang instan itu memang benar, karena sejatinya harus ada pengorbanan dari tiap kebahagiaan. – (hlm. 195)

How can I say? This novel is absolutely fit my taste. Saya acungi jempol bagi penulis yang berani membuat twist di awal sehingga banyak yang penasaran duluan dengan keseluruhan ceritanya. Saya adalah salah satu korban telaknya. Selama setahun saya sudah mendamba ingin membaca novel ini. Sudah mengikuti berbagai kesempatan di sini dan di sana tapi masih belum hoki. Namun, ternyata jodoh memang tak ke mana. Berkat giveaway yang diadakan oleh Mbak Asri Tahir di grup Meet Penulis BukuOryzaeedi facebook, akhirnya saya berkesempatan juga untuk membaca dan meresensi novel ini. Terima kasih banyak!😀

“Aku ingin menjadi pantas untukmu. Karena aku ingin kamu mengenangku sebagai seorang laki-laki yang baru. Bukan sebagai suami pengganti.” – Pram (hlm. 187)

Saya memang suka genre roman, saya pun suka dengan tema pernikahan. Apalagi situasi dan kondisi sejak awal cerita yang dihadirkan di sini bukanlah sebuah pernikahan yang dapat dijalani dengan mudah. Penulis mampu membangun emosi pembaca sejak halaman-halaman awal dan membuat saya tak ingin melepaskan novel ini sedikitpun. Saya sebagai pembaca dibuat berdebar sekaligus penasaran dengan kelanjutan kehidupan rumah tangga Pram dan Raina. Masalah pelik sudah tersaji di depan mata. Tidak perlu lama menunggu untuk menemukan titik yang ‘menggigit’ karena konfliknya tersebar di mana-mana. Tidak hanya karena keadaan yang memang terasa salah, tetapi juga dari sikap dan tindakan yang tokohnya perbuat hingga itu menjadi konflik baru yang sangat menarik untuk diikuti. Selama membaca novel ini dari awal hingga habis, tidak sedikitpun saya merasa bosan.

“Pernikahan bukan tentang cara kamu bersikap kepadaku, Pram. Tapi tentang sebuah pondasi yang kuat untuk menjalaninya.” – Raina (hlm. 123)

Saya suka dengan suasana kekeluargaan yang dibangun begitu kental dari kedua belah pihak oleh si penulis. Mereka sama-sama welcome terhadap si menantu. Keluarga Winatama sangat open terhadap Pram meski harusnya Raka yang ada di posisi itu, sedangkan keluarga Rahardi sungguh menganggap Raina sebagai menantu kesayangan karena memang Pram kini yang menjadi anak semata wayang mereka sepeninggal Raka. Dari Arman dan Pasha juga sangat mudah mengakrabkan diri kepada Pram walau Pram lebih tua dari mereka berdua.

Pembaca diajak untuk bisa belajar bersikap menerima dan bersabar seperti yang ditunjukkan oleh Pram. Ah, mungkin setiap wanita yang membaca novel ini akan beranggapan bahwa Pram memang sosok suami idaman. Ketelatenannya mengurus Raina selama Raina terpuruk pasca ditinggalkan oleh Raka adalah salah satu bagian yang saya suka dari novel ini.

“Menghilangkan rasa sakit itu bukan dengan menciptakan rasa sakit yang baru. Yang kita perlukan adalah menghadapinya.” – Pram (hlm. 178)

Penulis juga mampu membangun karakter yang kuat untuk Raka, Pram, dan Raina. Meski Raka sudah tiada, tapi melalui beberapa deskripsi yang dirasakan dan diingat oleh tokoh lainnya mengenai Raka sudah mampu menjelaskan bahwa Raka memang sosok yang sederhana dan apa adanya. Tak salah bila ia jatuh cinta pada Raina yang manja dan kekanakan. Contohnya yaitu handphone Raka tidak memakai foto apa pun sebagaiwallpaper. Hanya ada gambar pemandangan di sana. Oh, ternyata Raka sama persis seperti saya. Saya pun lebih memilih memasang wallpaper default atau pemandangan daripada pakai foto.😛

“Aku pernah merasa bahagia, tapi kamu memberikanku kebahagiaan yang berbeda. Yang baru aku sadari, ternyata aku tidak salah telah memberikan hatiku padamu.” – Raina (hlm. 196)

Untuk karakter Raina, seperti yang sudah saya sebutkan di atas bahwa Raina memang sosok yang sangat manja dan emosinya masih labil. Sulit bagi Raina untuk menerima takdir yang harus ia tempuh saat ini. Saya yakin bahwa tidak hanya saya yang merasakan ini, tetapi ada banyak pembaca lain merasa gondok dengan sikap dan jalan pikiran Raina yang terkadang sangat tidak konsisten dan mudah goyah oleh keadaan. Sementara Pram adalah sosok yang dewasa, matang, telaten, penyabar, tegas, berpendirian, namun masih sangat misterius di beberapa sisi terutama soal masa lalunya. Pram sangat bertolak belakang dengan Raina tapi justru itu ia dapat menjadi penguat dan melengkapi semua kekurangan Raina. So sweet~

“Kamu tahu, rasanya lebih menyakitkan dibohongi oleh orang yang sudah kamu berikan hatimu untuknya, dibandingkan ditinggalkan oleh orang yang paling kamu cintai selama-lamanya.” – Raina (hlm. 161)

Tidak hanya berkutat pada masalah internal dalam rumah tangga Pram dan Raina saja, di sini penulis menghadirkan masalah lain yang berhubungan dengan masa lalu Pram. Ya, Pram memang terasa sangat misterius karena tak banyak yang bisa Raina dan pembaca ketahui tentangnya. Dengan sangat lincah namun pelan, penulis merunut sedikit demi sedikit masa lalu yang terus membayangi Pram. Hadirnya badai lain yang menerjang bahtera pernikahan Pram dan Raina membuat keduanya makin di ambang keraguan, sementara ombak tinggi pun belum juga reda.

“Karena membuka masa lalu sama dengan membuka luka lama…” – (hlm. 129)

Dari segala hal yang saya sukai itu, masih ada beberapa hal lain yang mengganjal. Misalnya Dafa yang disebutkan sebagai keponakan Raina. Saya mengira Dafa itu anak dari saudara kandungnya Raina—anak dari Arman atau Pasha—tapi ternyata Arman dan Pasha masih sama-sama melajang. Jadi, Dafa itu anaknya siapa? Anak dari sepupu Raina kah?

Dan setelah sepeninggal Raka, tidak sempat dijelaskan pula bagaimana pihak keluarga mengatur dan menyelesaikan segala ke-hectic-an acara pemakaman Raka sekaligus persiapan pernikahan Pram dan Raina di hari yang sama. Dijelaskan bahwa Raka mengalami kecelakaan tepat satu hari sebelum hari pernikahan. Maka saya asumsikan itu artinya Raka meninggal pada hari yang sama saat kecelakaan terjadi. Lalu saya coba membayangkan kapan Raka dikuburkan? Karena logikanya sebelum seseorang dimakamkan pasti ada persiapan dan doa bersama dahulu, bukan? Biasanya pada besok pagi/siang/sore acara pemakamannya dilakukan sejak orang itu meninggal. Sementara besoknya sudah harus dilakukan prosesi pernikahan. Saya rasa akan lebih masuk akal jika tragedi kecelakaan Raka itu masih berselang beberapa hari sebelum hari H sehingga hal lainnya masih bisa terbayangkan sesuai logika. Ini bisa menjadi catatan tersendiri bagi penulis dan penyunting agar lebih memperhatikan setting waktunya.

Di halaman 22 terdapat kesalahan penulisan. Ada kata “biografi” di sana. Jika merujuk pada jurnal hidup yang ditulis oleh diri sendiri seharusnya disebut “autobiografi”, karena biografi adalah jurnal hidup kita yang ditulis oleh orang lain. Pada cetakan ketiga ini masih banyak terdapat typo semisal kurangnya tanda baca seperti titik, koma, dan tanda petik. Ada pula huruf yang dobel. Tapi itu tidak terlalu masalah dan masih bisa dimaklumi.

Akhir kata, saya tidak menyesal setelah bersabar selama setahun demi mendapatkan novel biru ini. Penantian yang lama itu ternyata memang setimpal dengan rasa puas yang saya rasakan setelah menamatkannya. Meski masih ada beberapa kekurangan yang sudah saya sebutkan di atas, tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk memberifull rate pada kisah Pram dan Raina. Not A Perfect Wedding kini resmi menjadi salah satu novel favorit saya. Sangat direkomendasikan bagi pembaca yang mencintai genre roman dan tema pernikahan.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<