Young Adult: Halo, Tifa
Halo, Tifa

Oleh: Ayu Welirang
ISBN: 9786020325101
Rilis: 2016
Halaman: 256
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

SMK Pratama Putra selalu didominasi murid laki-laki. Tak heran bila di tingkat akhir, Terra dan teman-temannya masih sibuk tawuran. Hingga suatu hari cewek mungil bernama Tifa datang sebagai siswi pindahan. Dengan sikapnya yang supel Tifa menghidupkan kembali OSIS dan ekstrakurikuler yang selama ini tidak berjalan. Keadaan baru itu membuat Terra gerah dan mulai mencari tahu siapa Tifa sebenarnya. Terutama sejak dua teman Terra melihat cewek itu di sebuah bar bersama seorang pria dewasa.

Di saat bersamaan, seorang alumnus STM Tunas Bangsa mulai merencanakan adu domba antara STM tersebut dengan SMK Pratama Putra. Apa yang harus dilakukan Terra dan teman-temannya?

Review

Ini adalah novel pertama Ayu Welirang yang kubaca. Saya tertarik membacanya saat melihat covernya, sederhana tapi cukup artistik. Kemudian saya baca sinopsis di bagian belakang buku ini, kisah anak sekolah lebih spesifik tentang tawuran antar STM, ini makin membuatku tertarik mengingat saya belum pernah membaca buku dengan tema tawuran seperti ini. Apalagi masa sekolah saya jauh dengan yang namanya tawuran, jadi penasaran kenapa anak sekolah terutama di kota-kota besar suka tawuran ya…tapi itu dulu, sekarang sudah enggga kan ya

Diawali dengan dibebaskannya Novian dari LP khusus remaja, karena ada jaminan dari Tifa,tetapi dia menyuruh temannya untuk menjemput Novian. Sementara itu di SMK Pratama Putra, kedatangan murid baru cewek dan ini menjadi satu-satunya perempuan di kelas itu, namanya Tivani Kamalia atau Tifa. Dan kedatangan cewek ini membuat Terra kesal karena Tifa dapat mempengaruhi teman-temannya untuk lebih memikirkan masa depan, dengan menghidupkan kembali ekskul. Ditambah lagi suasana sekolah sudah berubah,dimana siswa harus memikirkan nilai-nilai mengingat mereka sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan

“Sori,tadi itu Tera,preman SMK ini, yah,SMK ini memang beda banget. Ngga ngerti juga kenapa sekolah kayak gini masih bisa bertahan. Murid-muridnya pada rajin bolos, tapi sebenarnya sih pintar”,jelas Bram ” (hal:19)

Masa depan…Memikirkannya saja membuat Terra muak. Andai ia tidak perlu menjadi dewasa (hal : 23)

Dalam novel ini ada dua tokoh utama yaituTerra dan Tifa, meskipun lebih banyak tokoh Terra yang diceritakan dalam novel ini, Tifa diceritakan disini sedikit misterius. Meskipun saya sudah sedikit menebak,yaitu saat ditanya Bram “jadi, lo pindahan dari mana” tanya Bram tiba-tiba. Tifa menjawab sedikit gugup, “Ng..gue dari Bekasi,STM Taruna Bhakti” . Dari sini sebenarnya penulis sudah mulai membuka sedikit bahwa memang Tifa berbeda, kenapa juga harus gugup waktu ditanya asal sekolah. Sosok Tifa diceritakan sepotong-sepotong,dengan alur yang loncat-loncat.

Suasana SMK Pratama Putra berlangsung kondusif sejak kedatangan Tifa, bahkan Terra sudah mulai belajar dan berhenti dari aksi tawuran, yang kebetulan sedang ada gencatan senjata dengan STM Tunas Bangsa. Musuh bebuyutan kedua sekolah tersebut dari turun-temurun. Hingga ada alumnus STM Tunas Bangsa yang mengadu domba dengan mengkeroyok salah satu teman Terra, hingga masuk rumah sakit. Terra merasa tidak terima karena temannya dipukuli,sehingga ia mendatangi markas Ody,ketua geng STM Tunas Bangsa. Dibalik sifat Terra yang garang, moody dan keras kepala tetapi ia sangat setia kawan dan menghargai perempuan. Terra terkejut ketika mendapat jawaban bahwa yang memukuli temannya bukan Ody, tetapi Beni alumnus STM Tunas Bangsa yang masih dendam kepada SMK Pratama Putra. Beni adalah seorang yang berbahaya yang suka menyiksa, ia pernah memukul orang hingga meninggal dan menyebabkan Novian ditangkap. Tetapi Terra tidak mundur, ia menyanggupi tantangan Beni.

Sementara itu hubungan Terra dengan Tifa semakin membaik, bahkan ia menyanggupi untuk membantu Terra menyerang Beni dan STM Tunas Bangsa. Apalagi setelah mendengar alasan Terra untuk menyerang Beni, bahwa tujuannya untuk menyadarkan Beni

“Kadang orang yang merasa dirinya paling kuat harus dikalahkan dulu untuk paham masih banyak orang yang lebih hebat. Dengan begitu, dia nggak ngerasa paling hebat atau ngerasa bisa berjalan sendiri terus ” ( hal : 177)

Apakah Terra dapat mengalahkan Beni ? dan siapa sebenarnya Tifa? untuk mengetahui jawaban-jawabannya lebih enaknya baca langsung sendiri ya.

Ada qoute yang saya suka yang diucapkan Alit (tokoh yang sudah meninggal ) kepada Tifa. Alit ini adalah salah satu alasan Tifa menjalani peran sebagai siswa SMK Putra Pertama

Jadi orang hebat, penting dan signifikan itu memang melenakan, apalagi kalau tujuannya dikenang orang banyak atau orang di seluruh dunia. Tapi jadi orang biasa-biasa saja yang menolong orang banyak tanpa pamrih, tanpa memikirkan bakal dapat balasan apa, itu lebih baik. Seenggaknya dengan hal itu, kamu pasti bakal berusaha lebih keras, karena tujuan kamu ya menolong orang (hal :148)

Saya suka dengan tokoh Terra, meskipun terkesan Bad boy, tetapi ternyata anaknya pinter, serba bisa,setia kawan dan punya prinsip. Dan setiap orang pasti punya alasan masing-masing kenapa ia berperilaku demikian. Kalau Tifa, entah kenapa saya kurang nyangkut di hati #lah iya kan cewek..Kurang suka kalo dipasangkan dengan Terra..Tapi gimana lagi tokoh ceweknya cuma satu dan tokoh utama pula.

Meski endingnya terkesan dipercepat, tapi cerita ini cukup membuatku makin memahami dunia remaja beserta permasalahanya, apa beban dan harapan mereka serta bagaimana mendampingi mereka melewatkan masa kirisi ini. Berharap ada sekuelnya nih..

Awalnya, saya ga ngerti kenapa novel ini masuk kategori YA (Young Adult), padahal tema-nya masih seputar anak sekolahan, harusnya Teenlit ya..Tetapi setelah membaca sampai tuntas, sudah sewajarnya novel ini bergenre YA, karena memang permasalahanya lebih complicated, tidak masalah cinta-cintaan aja. Great Job buat penulisnya.

“Jadi,untuk mempelajari permasalahan dan ketakutan apa saja yang terbebankan pada pundak para remaja,coba dekati teman-teman terdekatnya. Jika beruntung, mungkin mediasi dapat dilakukan langsung kepada remaja yang bermasalah itu sendiri “(hal :96)

..remaja adalah penerus bangsa. Oleh karena itu, kehadirannya perlu disiasati dan diperhatikan, agar kelak bangsa ini dipegang oleh calon pemimpin yang baik,benar dan tentunya amanah (hal :145)

Selamat Membaca🙂

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<