Bumi

Bumi

Oleh: Tere-Liye
ISBN: 9786020301129
Rilis: 2014
Halaman: 440
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Hitam dan si Putih. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak. Aku sama seperti anak remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan. Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

Review

Raib, tokoh utama dalam novel ini, sebenarnya adalah seorang remaja lima belas tahun yang biasa-biasa saja, kecuali suatu fakta bahwa ia menyimpan rahasia besar yang bahkan orangtuanya pun tidak tahu. Ra – panggilan Raib – bisa menghilang. Bukan menghilang dalam arti pandai bersembunyi di tempat-tempat tertentu atau mudah tersesat, melainkan mampu membuat dirinya tidak kelihatan hanya dengan menutup wajah. Awalnya, kemampuan Ra menghilang tidak membawa begitu banyak pengaruh dan masalah berarti dalam hidupnya. Bahkan iapun tidak jarang menggunakan ‘bakat’nya itu untuk mengisengi mamanya. Namun, suatu peristiwa mengubah segalanya. Berawal ketika ia dihukum di lorong sekolah karena tidak membawa buku PR matematika. Saat itu Ra mengangkat kedua tangannya di wajah untuk menjahili temannya, dan tiba-tiba sosok tinggi kurus misterius berada di hadapannnya dan menyapanya.

Keanehan tidak berhenti sampai di situ saja. Ra, yang sudah memiliki dua kucing peliharaan sejak ulang tahunnya yang kesembilan, kehilangan salah satu kucingnya yang bernama Si Hitam. Hilangnya Si Hitam membuat Ra semakin bertanya-tanya karena mamanya hanya menganganggap ia mengada-ada. Selama ini, kedua orangtua Ra tidak menganggap kucing peliharaan Ra bernama Si Hitam dan Si Putih, melainkan Si Hitamatau Si Putih. Berarti hanya ada satu kucing. Lalu, siapa atau apa Si Hitam itu?

Hal kecil yang dialami Ra juga membawanya pada sesuatu yang lebih besar. Jerawat di jidatnya, yang sebenarnya adalah masalah biasa bagi remaja seusianya, tanpa disangka seketika menghilang saat ia menyuruhnya hilang. Saat itu pula, sosok tinggi kurus yang dilihatnya di sekolah muncul di cermin kamarnya dan menggiringnya ke sesuatu lebih besar lagi.

Seiring keanehan yang terus muncul, tiga tokoh lain – Ali yang jenius, Seli yang bisa mengeluarkan petir, dan Miss Keriting yang misterius – juga menunjukkan keganjilan. Bersama Ali dan Seli, Ra kemudian bisa membuka ‘pintu’ ke dunia lain dan melewati hari-hari yang tidak biasa seiring dengan terkuaknya berbagai misteri, termasuk siapa ia sebenarnya.

Bumi adalah novel fantasi karya Tere Liye kedua yang pernah saya baca (sebelumnya saya pernah membaca Kisah Sang Penandai), dan sejujurnya saya belum terbiasa karena menurut saya Tere Liye lebih lekat dengan genre drama kehidupan. Tetapi bukan berarti novel ini tidak layak dibaca. Melalui sinopsisnya, awalnya saya pikir buku ini hanya berkisah tentang Raib yang menggunakan kemampuannya menghilang dalam kehidupan sehari-hari, entah untuk suatu kepentingan atau hanya sekadar iseng. Tapi setelah membacanya, Bumi ternyata lebih dari itu.

Beberapa hal yang membuat buku ini menarik adalah, pertama, penokohan yang cukup jelas. Masing-masing tokoh digambarkan punya karakter tersendiri. Bahkan mama Raib yang di dalam buku ini sama sekali tidak tahu menahu tentang keanehan putrinya pun memiliki karakter yang kuat. Kedua, saya senang dengan latar belakang dunia lain di dalam novel ini. Dibandingkan mengambil setting di planet lain misalnya, pilihan dunia lain tentu lebih cocok dan menarik. Dianalogikannya dunia lain tersebut dengan aula di sekolah Raib yang bisa berfungsi sebagai lapangan berbagai macam cabang olahraga pun menurut saya adalah cara yang tepat untuk menjelaskan pada pembaca. Ketiga, beberapa bab dalam Bumi memiliki ending yang membuat penasaran, sehingga pembaca ‘dipaksa’ membuka lagi lembar demi lembar untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.

Dan seperti halnya buku-buku Tere Liye yang lain, Bumi tidak lepas dari quote-quote atau nasihat-nasihat sang penulis.

“Coba kamu hitung. Jika setiap hari Mama mencuci lima potong pakaianmu, maka selama lima belas tahun terakhir, dihitung sejak kamu bayi, itu jumlahnya sekitar, eh, 30.000 potong lebih. Atau, untuk Papa, tujuh belas tahun sejak menikah, angkanya lebih banyak lagi. Bisa 40.000 potong. Papa lebih banyak ganti baju, bukan? Total tujuh puluh ribu potong lebih. Untung saja Mama tidak menarik uang laundryke kita ya, Ra? Kalau satu potong Mama tarik seribu perak saja, wuih, banyak sekali tagihannya.” – halaman 18.

Sumber kekuatan terbaik bagi manusia adalah yang kalian sering sebut dengan tekad, kehendak. – halaman 136.

Ada banyak yang tidak diketahui oleh orang yang paling berpengetahuan sekalipun. – halaman 265.

Namun, ada juga yang membuat saya kurang sreg di buku ini. Salah satunya adalah jenisfont yang digunakan pada judul setiap bab. Sebenarnya, jika font tersebut hanya digunakan pada judul bab, saya rasa tidak apa-apa. Tetapi, font yang menurut saya terlalu bergaya itu juga digunakan pada huruf awal kata pertama setiap bab sehingga saya kadang salah membacanya (atau saya saja yang ketuaan untuk jenis font-nya? haha), seperti ‘Ou’ dibaca ‘Gu’, ‘Tog’dibaca ‘Log’ atau ‘Fog’.

Selain itu, adegan robohnya tiang listrik dan putusnya delapan kabel sepertinya berlangsung lambat sekali. Diceritakan, saat Raib dan Seli berjalan di belakang sekolah yang dekat dengan gardu listrik, sebuah tiang listrik berderak roboh ke arah mereka. Delapan kabelnya yang bermuatan listrik terputus dan bergerak lebih cepat. Tetapi, Seli justru menangkap kabel-kabel itu. Dimulai dengan dua kabel yang kemudian ia lempar hingga menghantam dinding sekolah, tiga kabel ditepis ke samping, dan tiga lainnya tidak bisa ia hindari. Segera, Seli mengalirkan aliran listrik itu dari tangannya ke dalam tanah. Memang, atraksi Seli ini diceritakan hanya berlangsung dalam hitungan detik. Tetapi banyaknya penjelasan tetap saja membuat saya merasa adegan-adegan ini lambat sekali hingga tiang listrik itu benar-benar hampir menghantam mereka. Padahal sudah disebutkan sebelumya bahwa tiang listrik itu berderak roboh.

Terlepas dari itu, Bumi tetaplah sebuah novel yang layak dibaca. Ceritanya yang imajinatif dan membuat penasaran menjadi kekuatannya. Bumi adalah buku pertama dari serial “BUMI”. Selanjutnya, kisah Raib, Ali, dan Seli akan berlanjut ke sekuelnya; Bulan. Bagi para pecinta fantasi, serial ini patut dibaca 🙂

>> Dapatkan di Bukupedia <<