Amba

Amba

Oleh: Laksmi Pamuntjak
Rilis: 2014
Halaman: 578
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali. Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

“Dengan novel ini, di mana adegan-adegan penuh gairah dan ketegangan berjalin kelindan dengan bagian-bagian sejarah yang penting, Laksmi Pamuntjak mengukuhkan dengan tegas dirinya sebagai salah satu penulis sejarah Indonesia terfasih.”
— Profesor Saskia Wieringa; The Jakarta Globe

“Novel ini amat kaya tekstur dan berlapis-lapis; sebuah karya yang menautkan secara canggih sejarah yang terhapuskan, kenangan hidup, dan mitos formatif tentang perang dan perdamaian…. Laksmi Pamuntjak menghidupkan kembali secara mengagumkan sebuah zaman pergolakan yang nyaris terlupakan, bersama semua korban dan pelakunya. Selama seminggu lamanya saya luruh seluruh dalam dunia novel ini, dan ketika saya keluar dari dalamnya, saya tetap masih merasakan sihirnya selama berhari-hari.”
— Aamer Hussein; Novelis

“Sebuah kisah cinta memukau yang dituturkan secara anggun dan penuh gairah oleh salah seorang penulis paling cerdas dari generasinya, berlatar sejarah yang paling ditabukan di tanah airnya sendiri.”
— Ariel Heryanto; Associate Professor of Indonesian Studies dan Head of Southeast Asia Centre, The School of Culture, History and Language, Australian National University

Review

Kisah dibuka dengan ditemukannya dua wanita yang terluka di dekat sebuah makam di Pulau Buru. Salah satu wanita yang terluka parah karena luka tikam jelas-jelas bukan warga pulau itu. Wanita satunya, Mukaburung, mengaku menikam si wanita lainnya karena wanita itu berani mendekati makam suami Mukaburung. Kemisteriusan wanita yang terluka itu terkuak saat seorang pria, Samuel, datang dan mengenali wanita itu sebagai Amba. Seorang wanita yang jauh-jauh datang ke Pulau Buru untuk melacak jejak sang kekasih.
Amba adalah putri sulung seorang guru di kota kecil, Kadipura. Ia tahu dirinya tak secantik ibunya dan adik kembarnya Ambika-Ambalika. Maka ia banyak meleburkan diri pada buku-buku, ia berusaha melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Ketika ia tak juga berminat menikah, ibunya yang cemas memaksanya untuk berkenalan dengan Salwa, seorang pemuda pintar dan lurus. Pada pemuda inilah Amba jatuh cinta. Saat Salwa berhasil membujuk orangtua Amba agar mengizinkan Amba kuliah di Yogtakarta, mereka makin sering bersama. Tapi hubungan mereka yang tetap lurus membuat Amba kecewa.
Ketika Salwa ditugaskan ke Surabaya, orangtua Amba menyarankan agar mereka segera menikah. Tapi Amba enggan, ia menolak. Ia berjanji akan menikah saat Salwa telah menyelesaikan tugasnya.
Dan di tengah kegelisahan hatinya serta kecamuk politik di sekelilingnya, Amba pergi ke Kediri untuk menjawab sebuah iklan yang mencari penerjemah. Di sebuah rumah sakit di Kediri itulah Amba bertemu dengan dr. Bhisma. Pria yang dengan mudahnya mencuri hatinya dan tanpa ragu memainkan gairahnya.
Sayang cinta Amba dan Bhisma di kisah ini, selayaknya kisah dalam Mahabharata, dipermainkan takdir. Mereka terpisah dalam sebuah penyerangan.
Bertahun-tahun Amba tak bisa menemukan Bhisma. Hingga sebuah email kaleng akhirnya memaksa Amba datang ke Pulau Buru untuk mencari jawaban. Mengapa mereka terpisah? Dan mengapa Bhisma tidak meninggalkan Pulau Buru seperti tahanan politik lainnya?

————–

Amba menjadi novel yang menarik hati saya karena dua hal. Satu karena Bhisma. Sebagai pencinta kisah pewayangan saya sangat mengagumi Bhisma, sang putera Gangga yang sangat berpegang teguh pada kesetiaan ikrarnya. Meski ia menolak Amba, tapi saya penasaran banget adakah terlintas di benak Bhisma rasa ketertarikannya pada Amba. Karena di tengah Bharatayudha ia pun dengan pasrah menerima takdirnya dijemput maut oleh Amba melalui Srikandi.

Yang kedua tentunya karena sejarah PKI dan situasi politik tahun 1965. Sebagai generesi yang dijejali PSPB, pelajaran sejarah yang katanya dipoles sedemikian rupa untuk mengagungkan Soeharto, saya selalu penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi di tahun-tahun itu. Karena sejarah yang ada di buku pelajaran sangatlah diragukan.

Dan rupanya novel ini lebih memuaskan dalam segi sejarah. Bisa dilihat bahwa Laksmi Pamuntjak melakukan riset yang luar biasa mendalam demi novel ini. Saya benar-benar terseret dan tenggelam dalam situasi serbakacau dalam novel ini. Ikut berdebar setiap kali nama-nama kiri disebutkan. Sedikit banyak saya bisa memahami situasi di kurun waktu itu.

Amba terbagi menjadi tujuh bagian. Samuel dan Amba menjadi pembuka kisah yang menjelaskan konstruksi cerita mengapa Amba datang ke Pulau Buru pada Maret 2006.
Di buku kedua, Amba, Bhisma, & Salwa menceritakan kisah asmara Amba dengan Salwa kemudian Bhisma yang terjadi di kurun waktu 1956 – 1965.
Buku ketiga, Amba & Adalhard berlatar di Yogyakarta tahun 1965 menceritakan pertemuan Amba dengan Adalhard, si lelaki ketiga. Juga keputusan besar yang akhirnya diambil Amba. Dilanjutkan dengan Bhisma di buku keempat.
Samuel dan Amba menjadi kisah di buku kelima yaitu kisah pertemuan awal Amba dan Samuel pada Februari – Maret 2006.
Kemudian segala jawaban akhirnya muncul di buku keenam Bhisma dalam Tahun yang Hilang antara 1965 – 2006 yang berisi surat-surat Bhisma untuk Amba sang kekasih tercinta.
Kisah ditutup dengan pertemuan Srikandi & Samuel pada tahun 2011 di buku ketujuh.

Sebagai novel yang menyajikan rentetan sejarah, cukup banyak tokoh sampingan dalam novel ini. Peran-peran yang meski porsinya kecil tapi punya andil kuat dalam proses cerita. Sementara untuk masing-masing tokoh utama; Amba, Bhisma, Salwa, dan Samuel, sejarah tentang siapa, apa, mengapa dan bagaimana mereka terdeskripsi dengan sangaaaat detail. Saking detailnya sampai terasa membosankan bagi saya.

Bisa dibilang meski porsinya cuma sedikit, saya puas dengan kisah tragis Amba dan Bhisma dalam novel ini. Yah, setidaknya nggak setragis kisah Amba dalam Mahabharata. Ada kesan kuat bahwa meski mereka nggak bersatu dan merana bertahun-tahun, tapi membaca surat-surat Bhisma serasa saya menemukan surat-surat cinta yang saya nanti bertahun-tahun dan pada akhirnya meredakan dahaga saya.

Akhirnya membaca Amba membuat saya puas. Amba menjadi novel historical fiction yang juga mengedepankan riset dan menyajikan fakta. Tentang komunis, tentang ‘kami’ dan ‘mereka’ yang tetap selalu ada hingga masa kini, tentang tahanan politik dan tentang Pulau Buru yang tadinya bagi saya terasa tertutup dan misterius.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<