Kalau kamu punya keahlian dalam bidang leterasi, mungkin akan ada yang terbesit untuk menjadi seorang editor buku. Karena menjadi editor dianggap sebuah profesi yang menyenangkan. Selain bisa mendapatkan pengalaman menilai sebuah naskah yang masuk dari penulis, juga bisa menjadi prestis tersendiri karena menjadi bagian dari penyusunan sebuah buku. Apalagi kalau nanti bukunya bisa laris.

Akan tetapi, menjadi editor buku tidaklah semudah yang dibayangkan. Kamu perlu memiliki skill khusus agar bisa bekerja di bidang ini dengan baik.

Karena menjadi editor buku semacam menjadi petugas yang mengecek barang-barang yang masuk sebelum layak untuk dipublikasikan.

Nah, kalau kamu ingin menjadi editor buku, akan lebih baik kalau kamu memiliki beberapa persyaratan seperti ini.

#Punya keahlian menulis

Editor harus punya keahlian dalam menulis. Karena salah satu tugas utama dari editor adalah menilai naskah yang dikirim oleh penulis. Kalau tidak punya keahlian dalam menulis, lalu bagaimana mau menilainya?

Karena nanti editor juga bakal menulis hasil koreksinya agar bisa dimengerti oleh penulis. Apalagi editor juga punya tugas seperti membuat sinopsis dari sebuah buku atau biografi penulis. Tentu ini membutuhkan keahlian dalam menulis.

#Suka membaca

Editor tidak suka baca? Mending jangan jadi editor. Karena selain menulis, editor juga wajib dan memang diharuskan membaca naskah yang masuk. Membacanya seorang editor tidak sekedar membaca seperti para pembaca buku biasa, tetapi seorang editor buku juga harus bisa memahami maksud dari setiap kalimat yang ada dalam naskah.

Sehingga ketika menemui kalimat yang kurang pas, bisa segera memberikan koreksi untuk diberikan kepada penulis.

Menulis dan membaca ini hal wajib yang harus dimiliki seorang editor buku.

#Mengerti ejaan dan tata bahasa

Seorang editor buku harus kaya akan kosa kata dan mengerti mengenai tata bahasa maupun ejaan yang benar. Karena kerap sekali penulis dalam menulis naskah tidak 100% memperhatikan ejaan dan tata bahasanya. Di situlah fungsi dari editor, ia harus bisa membenarkan tata bahasa sesuai dengan konsep buku tersebut. Kalau buku tersebut harus menggunakan tata bahasa dan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), maka harus detail setiap membaca kata demi kata yang sesuai dengan tata bahasa.

Hal-hal sepele soal penulisan kadang luput dari penulis. Misalnya saja ketika menulis kata dengan kata sambung “di”. Penggunaan kata sambung “di” itu ada yang dipisah ada yang disambung. Editor harus tahu kata mana yang perlu menggunakan kata sambung “di” pisah maupun yang sambung.

#Selalu memperbaharui kosa kata dari Kamus

Kalau menjadi editor buku dalam Bahasa Indonesia, maka harus selalu memperbaharui kosa kata dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kadang, ada kata yang mengalami pembaharuan ejaan dan lainnya. Atau mungkin juga ada kata / istilah yang kurang pas dalam sebuah kalimat, sehingga perlu diganti dengan istilah lain. Nah keberadaan kamus ini sangat membantu untuk hal itu.

Jadi, seorang editor harus mau berteman dengan kamus.

#Sabar dan Teliti

Jadi editor buku itu harus punya kesabaran tinggi. Karena kadang naskah yang dikirim oleh penulis itu bisa banyak. Kesabaran ini juga perlu diimbangi dengan ketelitian, agar ketika menilai sebuah naskah bisa didapatkan hasil yang maksimal atau tidak ada yang kecolongan.

#Memiliki keahlian di bidang lain

Akan lebih baik jika editor punya keahlian di bidang lain. Editor buku itu kan banyak sekali macamnya. Ada editor buku yang khusus untuk buku-buku pelajaran, itu pun nanti bisa bagi lagi, misal editor buku bahasa Inggris. Ada juga editor khusus buku-buku fiksi, dan lain-lain.

Nah, keuntungan memiliki keahlian di bidang tertentu ini adalah bisa menjadi bekal ketika ingin bekerja sebagai editor. Kamu bisa memilih menjadi editor buku yang sesuai dengan bidang yang kamu kuasai. Misalnya kamu punya keahlian di bidang komputer, kamu bisa menjadi editor buku-buku IT. Tentu ini akan memudahkan tugas kamu ke depannya.

#Dapat Berbahasa Asing

Meskipun kamu menjadi editor buku-buku berbahasa Indonesia, tetapi kamu juga wajib bisa bahasa Asing. Minimal bahasa Inggris. Karena nanti tetap saja akan ditemui istilah-istilah dalam bahasa Asing dan jika kamu sudah paham, maka akan mudah dalam mengoreksinya. Dan tentunya itu menjadi kelebihan bagi kamu sendiri yang bisa membuka peluang-peluang menarik untuk pekerjaan kamu.

Buku terkait : 101 Hari Menulis & Menerbitkan Novel Manual Bagi (Calon) Penulis

#Memiliki pemikiran yang terbuka

Menjadi editor jangan terlalu idealis. Apalagi jika menjadi editor naskah fiksi, kamu perlu memiliki pemikiran yang terbuka. Dan kamu wajib mengetahui gaya penulis masing-masing penulis. Karena setiap penulis itu punya gaya tersendiri. Dan kamu harus bisa bisa menyesuaikan dengan gaya mereka. Sehingga ketika menilai sebuah naskah, sisi atau gaya dari penulis tidak akan hilang.

#Patuh pada kode etik editing naskah

Editor itu punya kode etik saat melalukan editing naskah. Ada bagian dalam naskah yang memang perlu di edit tetapi ada juga yang tidak boleh dilakukan editing. Kode etik ini bertujuan agar naskah dari penulis tetap orisinil sesuai gaya penulis dan tidak tersentuh gaya editor. Selain itu agar proses editing bisa berjalan dengan lancar.

Nah, jadi bagaimana masih tertarik untuk menjadi editor naskah buku?