Mendekati ujian semester, biasanya para orang tua rajin menyuruh anaknya untuk belajar. Bahkan ada yang melarang anaknya untuk ke luar rumah sekadar untuk bermain dengan temannya. Berhadap dengan itu semua, anak bisa mendapatkan nilai yang bagus semua dan peringkat atas, syukur-syukur 3 besar.

Ketika ujian telah selesai, akhirnya anak akan mendapatkan hasil nilai beberapa mata pelajaran yang telah dikoreksi. Ada nilai yang bagus ada pula yang jelek.

Nah ketika melihat hasil nilai mata pelajaran yang telah diujikan atau hasil final yang ada di rapor, di situ orang tua mulai bereaksi. Dan kadang reaksinya aneh.

Ketika anak mendapatkan nilai bagus di mata pelajaran yang menurut orang tua tidak penting, seperti Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan, di situ respon orang tua biasa. Bahkan tidak ada satu kata pun untuk menyanjungkan. Tetapi jika mata pelajaran populer seperti Matematika, Bahasa Inggris, dll mendapatkan nilai jelek, orang tua langsung meresponnya.

Bukan respon positif, tetapi respon negatif. Akan ada ucapan-ucapan orang tua yang mayoritas menyalahkan anak. Bahkan mencari kesalahan-kesalahan kecil pada anak, seperti tidak tepat waktu dalam belajar, bangun tidurnya siang terus, dan masih banyak lagi alasan lain.

Sehingga anak pun hanya merasa bersalah.

Apakah tindakan orang tua seperti ini benar?

Ini bukan soal benar atau salah, tetapi tentang bagaimana cara mendidik anak dengan tepat. Perlu diketahui, anak bukanlah Superman, yang bisa segalanya. Setiap manusia pun seperti itu, punya kelebihan dan kekurangan. Masing-masing punya bakatnya sendiri. Ada yang pandai dalam hal olahraga, ada yang kreatif dalam hal kesenian, ada pula yang jago berhitung.

Kalau Anda sebagai orang tua mendapati anak punya nilai yang jelek, STOP, jangan memarahi dulu. Daripada marah-marah dan menyalahkan anak, mending mencoba untuk mengubah pola pikir orang tua.

Hingga saat ini masih banyak orang tua yang punya pemikiran seperti itu. Maksudnya terlalu memaksa anak untuk mendapatkan nilai yang bagus di seluruh mata pelajaran khusus mata pelajaran populer dan bahkan memaksa anak untuk bisa peringkat pertama.

Sebaiknya orang tua mulai mengubah pola pikirnya, bahwa setiap anak itu punya kelebihan dan kekurangannya. Dan lebih baik orang tua fokus tentang bagaimana melihat apa yang menjadi kelebihan anak dan kekurangannya. Sehingga kelebihan itu bisa diasah lagi. Bukan mengasah kekurangan untuk bisa menjadi sempurna. Karena kadang kekurangan itu memang tidak bisa diperbaiki.

Buku terkait :

Misalnya saja memilihkan anak dalam kursus. Biasanya orang tua akan memasukkan anak ke tempat kursus mata pelajaran yang mana anak selalu mendapatkan nilai jelek. Padahal si anak tidak suka dengan mata pelajaran itu, alhasil tetap dipaksa saja.

Di lain sisi, ketika anak suka dalam hal tertentu, malah dibiarkan dan tidak dibantu untuk mengasahnya. Padahal jika kelebihan yang dimiliki anak itu diasah, bisa jadi itu potensi yang bagus untuk masa depannya. Katakanlah anak hanya suka menggambar, orang tua jangan malah menyalahkan anak yang sukanya gambar saja. Justru dari aktifitasnya itu, orang tua bisa melihat bahwa si anak punya potensi dalam hal menggambar.

Nah dari situ orang tua bisa membantu mengasah potensi yang anak punya melalui berbagai cara seperti memasukkannya ke tempat kursus gambar. Itu contoh saja.

Jadi kesimpulannya adalah, jangan memarahi anak jika anak mendapatkan nilai yang jelek. Ketika orang tua memarahi anak, yang ada si anak bukan termotivasi tetapi malah terbebani. Jika sudah terbebani, jatuhnya tidak bisa mengerjakan dengan maksimal. Karena psikologisnya terganggu.

Berapa pun nilai yang didapatkan anak, tetap beri motivasi dan apresiasi. Karena berapa pun hasilnya, anak telah berusaha untuk mengerjakannya. Dengan memberikan apresiasi dan motivasi, justru bisa membuat anak lebih percara diri. Dan bisa jadi mata pelajaran yang semula tidak disukai, menjadi diminati.

Mari bagi orang tua, lebih aware lagi dengan perkembangan potensi anak. Percayalah anak punya bakatnya masing-masing. Anak yang tidak pandai matematika, belum tentu tidak sukses di masa depannya.