Saya rasa masih banyak banyak pembaca buku yang belum mengetahui perbedaan antara buku fiksi dan non fiksi. Hayo ngaku?

Untuk membedakan sebuah buku itu termasuk buku fiksi atau non fiksi itu gampang. Bukan dilihat dari fisiknya, soalnya fisiknya ya sama saja, tetapi dilihat dari isinya. Di artikel kali ini saya ingin berbagi sedikit mengenai perbedaan antar keduanya. Dan semoga saja kamu bisa memahaminya.

Apalagi buat kamu yang memang berniat membuat buku, sehingga nanti bisa mendapatkan gambaran yang cukup baku ingin memilih jenis buku yang mana.

#Buku Fiksi

Kita mulai dari buku fiksi dulu. Dari katanya saja pasti kamu sudah bisa menyimpulkan ini buku yang bagaimana. Fiksi, fiktif berarti tidak nyata, rekaan, imajinasi, khayalan. Nah, dari sini sudah bisa disimpulkan bahwa buku fiksi adalah buku yang berupa cerita rekaan.

Cerita rekaan ini bisa bersumber dari imajinasi dan khayalan dari penulisnya. Contoh buku fiksi adalah novel, komik dan cerpen.

“Lhoh kan ada novel yang diangkat dari kisah nyata? Apakah itu juga disebut buku fiktif?”

Iya benar, ada beberapa novel yang diangkat dari kisah nyata, tetapi sangat jarang atau bahkan tidak ada yang sama 100%. Baik dari tokoh hingga ceritanya pasti ada yang ditambahi dan diubah alurnya. Cuma inti dari cerita itu mengambil dari kisah nyata. Kan banyak novel yang diambil dari kisah nyata, tapi tetap ada cerita rekaan yang disisipkan oleh penulisnya untuk mempertajam dan menguatkan isi cerita.

Dalam menulis buku fiksi ini penulis memang dituntut untuk mampu berimajinasi dan berpikir kreatif. Penulis sangat dibebaskan ingin bercerita apa, karena ceritanya hanyalah fiktif.

Akan tetapi penulis buku fiksi tetap harus memperhatikan koridor-koridor yang ada, seperti agar cerita tetap masuk nalar dan diterima pembaca.

Ketika pembaca membaca buku fiksi, nantinya bakal dapat masuk dalam cerita itu. Pembaca juga bisa berimajinasi membayangkan apa yang ada dalam cerita.

Meskipun dikatakan bebas dalam menulis cerita fiksi, tetapi penulis kadang juga membutuhkan riset. Riset disini digunakan untuk menguatkan cerita yang ingin dibangun. Wajar jika penulis buku fiksi membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menulis. Karena ia tidak sekedar menulis apa yang dikhayalnya saja, namun juga melakukan riset apakah cerita yang akan disampaikannya sesuai dengan situasi kondisi yang ada.

Selain novel dan cerpen, contoh buku fiksi

#Buku Non Fiksi

Buku non fiksi tentunya kebalikan dari buku fiksi. Berisi informasi yang dibuat berdasarkan data, fakta, dan penelitian. Dalam membuat buat non fiksi ini makanya tidak bisa sembarangan. Apa yang ditulis harus bisa dipertanggung jawabkan.

Misalnya saja buku mengenai inspirasi, tips, biografi, ensiklopedia, dll.

Menulis buku biografi, tidak mungkin kan berdasarkan imajinasi? Tentu harus membutuhkan riset berdasarkan fakta orang yang bersangkutan.

Ketika kamu membaca buku non fiksi, pasti yang ditulis di buku itu akan masuk akal dan logika. Karena ya memang sebelumnya dirangkai berdasarkan fakta dan penelitian.

Buku terkait :

Bagaimana sudah tahu kan bedanya buku fiksi dan non fiksi. Nah, yang menarik adalah terutama bagi pembaca, ada yang memang suka membaca buku fiksi ada pula yang hanya suka membaca buku non fiksi.

Biasanya orang yang suka membaca buku fiksi adalah orang-orang yang suka berimajinasi dan ingin mendapatkan kesenangan lain yang tidak ada di dunia nyata. Atau memang dia orangnya suka bercerita, sehingga buku-buku fiksi sangat cocok dengannya.

Tapi ya tidak dipungkiri kalau buku non fiksi juga berharga. Karena buku non fiksi biasanya dibutuhkan untuk keperluan yang memang penting dan untuk menambah wawasannya.