Disaat keterbukaan informasi menuntut kita untuk lebih peka terhadap apapun yang tersebar.

      Buku adalah jendela dunia, mungkin ungkapan ini benar adanya. Dengan hanya membeli buku kita bisa mendapatkan pengetahuan yang tidak terbatas,contohnya dengan  membeli novel bergenre traveling atau adventures dengan harga yang relatif terjangkau kita bisa merasakan petualangan  melalui cerita yang ada di dalamnya. Namun seiring perkembangan zaman menuju era digital, dimana informasi bersifat terbuka dan maju, maka terjadi pergeseran pandangan terhadap budaya baca itu sendiri.

      Jika dijaman dahulu, kita akan membeli sebuah buku RPUL atau buku rumus rumus matematika saat kau mempunyai tugas rumah yang guru berikan beda halnya dengan sekarang. Kita hanya tinggal menulis beberapa keywords yang kita butuhkan dan taraaa!! berbagai jawaban sudah tersedia di internet.Berbagai jurnal, referensi dan kata mutiara orang terkenal ada disana dengan gratis. Mengagumkan? Bisa dibilang iya. Namun ada problem lain disini. Tidak semua konten yang tersebar di internet itu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, terkadang banyak hal yang telah dimanipulasi dan dipublish seenaknya saja, ambilah sebuah contoh jika kalian mencari di mesin pencarian google “apa bentuk bumi ?” maka akan banyak jawaban yang simpang siur, artikel yang tidak jelas asalnya. Ada yang bilang kotak, trapesium atau malah prisma. Apakah hal seperti itu bisa dibilang pemikiran kritis atau malah menyesatkan? Itu semua kembali pada anda sendiri.

“Yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.” (dalam Muhidin M. Dahlan, “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta,” Media Abadi, Yogyakarta, 2004:7)”.

      Lalu bagaimana dengan buku? saya tidak bisa bilang semua isi buku dapat dipertanggung jawabkan. Namun setiap penerbit pasti punya pakem atau aturan yang di berlakukan pada penulis. Tidak hanya itu, penerbit yang besar dan sudah berpengalaman  pasti melakukan seleksi yang ketat terhadap konten dari buku yang mereka edarkan. Mereka pasti tidak mau mengedarkan buku yang tidak berkualitas atau buku yang memuat konten yang menimbulkan kerancuan pada publik. Tapi bukan berarti buku tidak memiliki masalah ya, masalah tetap ada bagi mereka yang mencari masalah

Teknologi dan buku (mungkin) bisa bersatu.

      Untuk buku buku dengan genre genre tertentu seperti peta memang lebih baik harus berdamai dengan teknologi. Karena sepertinya memang lebih praktis melihat peta melalui hp atau tablet, terkecuali jika anda seorang pencinta outdoor yang terbiasa melakukan kegiatan tanpa sinyal selular, dan itupun anda harus belajar membaca peta tersebut seperti lokasi, koordinat dan lain lain. Coba bayangkan jika driver okejek kemana mana membawa peta? Lalu pernahkah anda merasa ngantuk saat membaca buku? Apa yang Anda lakukan jika hal itu terjadi? Tidur? Atau malah berinternet ria untuk mencari jawaban apa bentuk bumi? Halah!! Dan satu lagi, dunia kita semakin tua, kita harus mendukung gerakan go-green dan memperlambat laju pemanasan global. Menciptakan dunia yang lebih baik untuk anak cucu kita nanti. Maka dari itu kalau beli buku 1 saja tapi dibaca bersama sama agar tidak banyak pohon yang ditebang demi alasan ilmu pengetahuan. Lho!!

    Terlepas dari itu semua memang ada alternatif lain seperti eBook, namun tidak akan saya bahas disini. Karena apple to apple pada artikel ini adalah buku dan internet. Kalau buku dan eBook itu apple to buah jamblang, sudah beda pokok masalahnya. Membaca adalah untuk menambah wawasan, entah kita membaca dari buku, internet atau bahkan membaca garis tangan sekalipun itu akan berdampak pada pengetahuan anda dan cara pandang anda terhadap dunia, ingat ya sahabatku yang belum super; membaca untuk semua, semua untuk dibaca.

Untuk mencari buku buku berkualitas silahkan cari  di Bukupedia.com

happy reading 🙂