Dunia pendidikan tentunya berubah seiring perkembangan zaman. Bisa dibilang dunia pendidikan semakin berkembang pada arah yang lebih baik, karena berbagai macam faktor. Kita bisa melihat bahwa saat ini teknologi berkembang pesat. Banyak media belajar yang tersedia saat ini, sehingga murid pun bisa belajar dengan mudah dan cepat.

Jika dibandingkan dengan dulu, kemudahan mengakses media pembelajaran ini menjadi salah satu kekuatan pada pendidikan di era masa kini. Tak heran apabila kita sering mendengar pernyataan bahwa anak zaman sekarang dianggap lebih cerdas daripada generasi-generasi sebelumnya. Namun bagaimana dengan faktor lainnya yang ada pada dunia pendidikan saat ini?

Berbicara mengenai moral, era generasi millenial dikatakan sebagai masa degradasi moral. Benarkah demikian? Sejatinya, pendidikan merupakan bekal untuk membentuk karakter dan moral seseorang. Lalu bagaimana pendidikan di era generasi milenial ini sendiri? Jika menilik ke belakang, ada banyak sekali kasus yang santer terdengar beberapa waktu lalu mengenai dunia pendidikan saat ini.

Misalnya saja, ada kasus dimana guru dianiaya oleh murid karena sang murid sempat ditegur. Akhirnya aksi melawan guru pun dianggap sebagai aksi super keren yang patut mendapatkan pujian. Dengan kata lain, ada banyak kasus kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan. Selain itu, ada juga kasus dimana wali murid malah memukul guru karena tidak terima anaknya dianggap nakal di sekolah.

Apa sebenarnya hal yang melatarbelakangi beberapa kejadian ini dapat terjadi? Faktor utama yang bisa menyebabkan murid melakukan aksi kekerasan kepada guru sendiri ialah faktor psikologis yang ada pada murid maupun wali murid. Siswa yang berperilaku seperti ini kemungkinan besar cenderung sulit mengendalikan emosi sendiri, atau bahkan memiliki kepribadian yang impulsif. Kemudian yang membuat hal ini bisa terjadi ialah pengaruh dari lingkungan sekitar tempat tinggal murid.

Selanjutnya kita akan membahas tentang faktor pembelajaran yang dikatakan semakin kompetitif. Tak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan murid hanya ditekan untuk belajar, supaya bisa mendapatkan nilai yang baik, kemudian lulus dan berhasil diterima di jenjang pendidikan berikutnya. Namun sayangnya, hal ini terkadang membuat para murid menjadi kurang bertoleransi dan bersosialisasi saat berada di lingkungan sekolah. Akhirnya beban pun dirasakan oleh para murid. Banyak kasus yang bermunculan mengenai murid yang stres, kemudian emosinya mudah meledak karena hal ini.

Hal-hal seperti ini tentu menjadi persoalan yang tidak mudah bagi para pengajar dalam menyampaikan ilmu sekaligus mendidik para murid. Tentu saja hal ini tidak akan terwujud apabila tidak ada kerja sama baik antara beberapa pihak, yaitu guru, murid, dan orang tua murid. Kerja sama yang baik ketiga pihak ini lah yang akan menentukan kesuksesan pendidikan di era generasi milenial, khususnya di Indonesia.