Kita sadar bahwa keberadaan media sosial sangatlah membantu sekali di era sekarang ini. Dulu, awal kemunculan media sosial sangat membantu kita untuk menemukan teman-teman lama yang telah berpisah. Dan akhirnya bisa dipertemukan secara digital melalui media sosial. Selain itu kita juga bisa mendapatkan teman-teman baru dengan mudah.

Seiring berkembangnya waktu dan teknologi, media sosial bertransformasi ke bentuk yang lebih komplek lagi. Tak untuk jejaring pertemanan saja, tetapi media sosial sudah menjadi media yang bisa digunakan untuk pemasaran digital bahkan secara personal bisa digunakan untuk beropini secara bebas dan terbuka.

Akhirnya banyak pengguna media sosial yang dengan mudahnya beropini melalui akun-akun pribadinya. Karena pada dasarnya opini itu unik dan sifatnya yang tidak selalu bisa diterima semua orang, akhirnya mulailah timbul guncangan di media sosial. Banyak yang beropini tapi tidak diimbangi dengan dasar pengetahuan yang kuat, dan akhirnya malah berujung saling maki.

Kemudian pada akhirnya muncul hoaks atau berita bohong yang memanfaatkan media sosial untuk penyebarannya. Semakin riuh saja media sosial karena hal ini. Dan media sosial pun semakin tajam, di mana yang awalnya hanya sisi positif yang terlihat, sekarang ada dua sisi, yaitu sisi positif dan negatif. Media sosial sekarang bak pisau yang bisa saja mencederai penggunanya kapan saja.

Baca juga : Mengapa Hoax Mudah Menyebar di Masyarakat?

Dewasa dalam bermedia sosial

Akan tetapi, semua itu kembali lagi ke masing-masing pengguna. Pisau akan bermanfaat jika digunakan seseorang untuk memasak, tetapi akan beralih fungsi jika dipegang oleh penjahat.

Kedewasaan kita dalam menggunakan media sosial di era sekarang ini sangat berperan penting. Karena ini akan menentukan dampak yang akan kita dapatkan dari bermedia sosial.

Salah satu contoh bentuk ketidakdewasaan dalam bermedia sosial adalah banyaknya orang-orang yang dengan alasan “iseng” menyebarkan berita hoaks. Kita pun sudah melihat sendiri bagaimana orang-orang ini melakukan kejahatannya yang pada akhirnya berakhir di pihak yang berwenang.

Itu kaitannya dengan kejahatan publik.

Kedewasaan dalam bermedia sosial juga perlu kita benamkan di dalam diri kita untuk tujuan pribadi kita. Misalnya saja di saat bekerja. Sadar atau tidak, waktu kita banyak terbuang karena media sosial. Sekarang ini kita lebih sering membuka ponsel hanya sekedar membuka media sosial meskipun tidak ada notifikasi.

Kalau pun tidak sedang ada pekerjaan itu masih bisa dimaafkan.

Akan tetapi jika sedang waktunya kerja, media sosial sangat-sangat mengganggu sekali. Media sosial dapat memecah fokus kita, sehingga waktu yang kita gunakan untuk bekerja akan terbuang dengan sia-sia.

Inilah mengapa media sosial itu bisa jadi boomerang untuk hidup kita. Dari yang awalnya bisa digunakan untuk menemukan teman lama, sekarang bisa membuat hidup kita berantakan. Tapi yang perlu diingat adalah itu semua tergantung siapa yang menggunakannya.

Di luar masalah-masalah seperti itu, faktanya juga banyak yang mendapatkan untung dari media sosial. Jelas, bermedia sosial memang dibutuhkan kedewasaan. Karena dengan kita bijak dalam bermedia sosial, maka kita akan tahu mana yang baik dan buruk.

Media sosial akan menjadi boomerang yang menghancurkan jika kita tak bisa memiliki kedewasaan dalam menggunakannya. Begitu juga sebaliknya.