Sekarang ini bisnis start up kian bermunculan. Banyak yang digawangi oleh anak-anak muda. Tentu ini menjadi sinyal positif untuk perkembangan bisnis di Indonesia khususnya di kalangan anak muda. Akan tetapi membangun bisnis start up ini tidak semudah yang dibayangkan. Mudah mungkin diawal mendirikannya tetapi sulit dalam mengembangkan dan mempertahankannya.

Karena di luar saja banyak juga bisnis start up yang tumbang karena berbagai masalah, seperti kekurangan dana, tim yang tidak kompak, produk yang kurang menjual dan masih banyak lagi.

Untuk itu dalam membangun bisnis start up perlu adanya kesiapan dari sisi ilmu pengetahuan dan juga diri sendiri (mental dan fisik). Karena yang namanya bisnis start up itu dibutuhkan kerja keras yang tinggi di awal-awal berdirinya.

Ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan agar bisa mengembangkan bisnis start up menjadi besar.

1. Produk yang inovatif

Di sini kamu selaku founder harus dituntut inovatif agar bisa menciptakan ide-ide bisnis yang memang nantinya dibutuhkan oleh masyarakat. Secara sekarang ini persaingan bisnis start up sangatlah tinggi. Kalau kamu tidak punya inovasi atau pembeda pada produk kamu, maka akan dikalahkan oleh start up lain.

Selalu berpikir ke depan, apakah produk bisnis kamu nanti akan semakin dibutuhkan orang atau malah ditinggalkan. Kita bisa belajar dengan start up lokal, Go-Jek. Dulu awal kehadiran Go-Jek banyak yang kontra atau menimbulkan pro kotra, tetapi kita bisa lihat sendiri sekarang kalau Go-Jek semakin berkembang dan membantu masalah banyak orang.

Nah itu dia kuncinya, membantu masalah banyak orang.

Jadi kalau sedang ingin mencari ide bisnis apa yang cocok untuk start up kamu nanti, cari saja masalah apa yang saat ini ada di masyarakat dan perlu diselesaikan. Kemudian kamu buat solusinya melalui produk bisnis kamu. Jangan ingin membangun start up karena hanya uang atau mendapatkan dana investasi puluhan juta dollar.

2. Ciptakan teknologi mu sendiri

Jangan membangun bisnis start up dengan ‘nebeng’ teknologi dari orang lain. Bisnis start up itu harus mandiri, jadi harus bisa menciptakan teknologinya sendiri. Mengapa demikian? Karena apabila masih bergantung pada pihak lain maka ancaman atau risikonya semakin besar. Misalnya teknologi tersebut rusak atau gagal, maka bisnis start up kamu juga ikut gagal.

Yang dimaksud teknologi di sini adalah teknologi utama produk bisnis Anda. Bukan teknologi pendukung yang memang perlu menggunakan pihak lain.

3. Bangun tim yang solid

Investasi paling besar dalam sebuah bisnis start up adalah SDM melalui tim yang solid. Jadi pastikan sedari awal ketika mencari partner bisnis atau co-founder, cari yang benar-benar paham soal model bisnis start up. Cari yang mau diajak jatuh bangun bersama, bukan sekadar mencari untung belaka.

Kemudian ketika merekrut tim baru, pastikan cari yang benar-benar passionate. Kamu harus cari orang-orang yang terbuka pemikirannya, mau diajak fight bersama, mudah diajak komunikasi dan terus ingin mengasah keterampilannya.

Karena bekerja di lingkungan start up tidak seperti di perusahaan konvensional yang banyak terpusat di jabatan atas. Jika di bisnis start up, siapa saja berhak mengeluarkan ide untuk kemajuan bisnis start up.

4. Perluas Jaringan

Bisnis start up kamu tidak akan bisa berjalan sendiri, harus ada pihak lain yang saling bersinergi. Untuk itu perlu memperluas jaringan agar bisa mendapatkan relasi bisnis yang saling menguntungkan. Misalnya saja kamu membangun bisnis start up bidang fintech, maka perlu bekerja sama dan membangun jaringan dengan banyak pelaku bisnis.

Ini juga akan meningkatkan kredibilitas bisnis kamu ke depannya. Dan bisa jadi ini akan membukakan pintu untuk bisnis-bisnis baru apalagi untuk investor.

5. Jangan menjadi orang lemah

Sebagai founder, kamu haru memiliki mental yang kuat. Sekali lagi, membangun bisnis start up itu tidak mudah. Awalnya memang mudah, tetapi untuk mempertahankan dan mengembangkannya itu yang butuh effort besar.

Buku rekomendasi :

Apakah kamu sudah siap menjadi CEO sebuah startup?