City Lite: Secangkir Kopi & Pencakar Langit

Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Oleh: Aqessa Aninda
ISBN: 9786020287591
Rilis: 2016
Halaman: 352
Penerbit: Elex Media Komputindo
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Satrya nggak munafik, first impression seorang laki-laki terhadap perempuan pasti tampilan fisiknya dulu sebelum inner beauty. Namun teori itu terbantahkan ketika Satrya tanpa sengaja meminta bantuan Athaya, seorang IT sytem analyst yang begitu passionate dengan profesinya, juga dijaga habis-habisan sama cowok-cowok IT yang pada sayang sama ‘dedek’ mereka ini. Satrya bisa memilih cewek cantik mana saja untuk didekati-Penampilan Satrya memang mampu bikin cewek-cewek melirik sekilas kepadanya. Tapi, ia memilih Athaya. Sedangkan Athaya diam-diam sudah lama memendam rasa pada Ghilman. Maslahnya… Ghilman udah punya pacar.

Di tengah-tengah business district nomor satunya Jakarta, kopi, rokok, meeting, report, after office hour, cowok-cowok rapi dengan kemeja slim fit, kaki jenjang cewek-cewek dengan heels 7 sentimeter, ada sepotong kisah cinta segitiga antara Athaya, Satrya, dan Ghilman. Siapakah yang akan Athaya pilih? Satrya yang menarik dan fun, atau Ghilman yang baik hati serta gesture-nya yang selalu bikin jantung Athaya deg-degan? Benarkah dicintai rasanya lebih menyenangkan daripada mencintai?

Review

Seperti yang ada di blurb-nya, SKdPL ini bercerita tentang Satrya – Athaya – Ghilman. Athaya itu dari dulu udah naksir Ghilman, tapi Ghilmannya udah punya pacar. Terus, datanglah Satrya yang ceritanya ganteng banget. Nah, Satrya ini tertarik sama Athaya, karena semangatnya, dll, dll, dan dia pun mulai melancarkan jurus-jurus modus.

Tapi, terus, Ghilman putus sama pacarnya. Dan habis dia putus, eyangnya Ghilman ngenalin dia sama anak temennya–katanya, temennya ini punya cucu cantik dll. Nah, pas ketemu, taunya itu Tata (bukan Toto, itu mah kloset) alias Athaya.

Sejak dari situ, Ghilman jadi lebih merhatiin Athaya dan sadar sama tingkah lakunya Athaya ke dia selama ini. Athaya yang sering sengaja nyamain jam pulang sama Ghilman biar bisa satu lift, lah, dan segala macem.

Oke, tapi, waktu itu Satrya udah mulai deket sama Athaya. Dan Athaya juga pernah dibilangin sama ibunya, kalau dicintai itu lebih menyenangkan daripada mencintai.

Hm, tapi sebenernya, ada satu hal lagi yang bikin Satrya seneng sama Athaya, yaitu, Athaya mirip sama Alisha–sahabatnya pas kuliah yang sekarang nikah. Satrya ini punya perasaan sama Alisha tapi karena terlambat nyatain, ya ditinggal nikah, deh.

Nah, kelanjutannya, silakan dibaca sendiri! Kira-kira, siapa yang bakal Athaya pilih? Satrya yang masih terjebak bayang-bayang (?) Alisha, atau Ghilman yang sama dia, Athaya seolah cuma menatap ‘punggung’?

*jengjeng*

Nah, oke, basa-basi bentar, yaa HEHEHE.

Tulisan pertama Kak Echa yang saya baca di Wattpad adalah Jejak. Pertama pengin baca Jejak karena cerita itu sering muncul, dan jadi penasaran. Tapi pas liat ada #3 di judulnya, saya jadi pengin baca yang #1 alias SKdPL (walaupun enggak nyambung, sih… yah, nyambung cuma ya gitu, lah). Tapi pas itu, SKdPL katanya udah mau diterbitin dan saya males baca buru-buru (atau emang udah diapus, ya? Lupa wkwk). Intinya, saya mau beli versi cetaknya ajaa. Jadilah saya baca Jejak.

Dan saya suka sama cerita itu! Suasananya Chick-lit abis. HAHA. Suka sukaa! Makanya ngebet banget pengin beli SKdPL ini. Saya juga ikut PO SKdPL dan walaupun sampenya telat, tapi ahh, dapet postcard yang sangat amat lucu dan ada tanda tangan Kak Echa yayy!

Tapi, karena saya udah baca Jejak, saya udah tahu Athaya milih siapa di SKdPL : ” HAHA. Cuma pas baca SKdPL, enggak terlalu kaget sih, sama ending-nya. Bukan karena udah baca Jejak, cuma kelihatan aja di awal itu si ono lebih ditonjolin daripada si anu. Dan kerasa aja Athaya bakal milih siapa (sotau mode on).
Sebenernya, awal saya baca Jejak, saya agak aneh sama cara Kak Echa bercerita. Kayak, santai banget. Berasa orang ngobrol. Dan kadang di narasi ada kayak dobel-dobel huruf gitu. Misalnya: ‘Yaaaa, Satrya aja bla bla bla’.Jadi, awalnya saya sempet mandek pas baca Jejak. Tapi karena anaknya gabut, jadi saya buka dan baca lagi. Dan setelah lewat beberapa chapter, saya jadi enggak masalah sama gaya berceritanya Kak Echa. Jadi khas gitu malah. HEHE.

Makanya, pas baca SKdPL ini, saya enggak kaget pas nemu gaya berceritanya sangat seperti Kak Echa.

Oke, sekarang mari kita bahas bukunya.

Kalau ngomongin masalah EyD, tanda baca, dan typo, kayaknya banyak, sih. Ya, enggak banyak-banyak amat juga. Cuma kayak kalimat enggak efektif itu masih sering saya temuin.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<