Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta

Oleh: Suarcani
Rilis: 2016
Halaman: 226
Penerbit: Jendela O Publishing
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya?

Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan. Tapi, kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku. Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dalam ketakutan. Aku butuh jalan, butuh mata kompasku.

Apakah kamu bisa membantuku menemukannya? Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.

Review

Kali kedua membaca karya dari Suarcani, dimana merupakan buku debutnya dan menjadi juara pertama lomba menulis Way Back Home yang diadakan oleh Jendela O’ Publishing House yang bertema self dicovery, tentang cerita perjalanan yang mendewasakan, tentang pelajaran hidup yang penuh ujian dan sarat makna, tentang menemukan jati diri, passion, dan arah hidup. Saya tidak heran kalau buku yang memiliki judul cukup panjang dan amat menarik ini menjadi juara, semua komponen tersebut ada dan tersampaikan dengan baik. Bisa dibilang Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta adalah sebuah buku perjalanan spiritual di mana tokoh utamanya pada mulanya adalah orang yang hopeless, lalu sebuah perjalanan menyelamatkan dirinya, menemukan salah satu kompas yang masih berfungsi dan menuntun untuk menemukan jalan terang, jalan pulang.

Ravit masuk penjara ketika dia akan berusia empat belas tahun, menghabiskan masa remaja di sana dan terbebas lima belas tahun kemudian. Pasca keluar dari bui, Ravit tidak memiliki tujuan pasti, hanya Om Rus, pengacara sekaligus kerabat ibunya yang dia punya yang dengan senang hati membantu dan memenuhi kebutuhan hidup, tapi keluarga Om Rus tidak bersahabat dan enggan bila Ravit tinggal bersama mereka. Ravit tidak bisa kembali ke rumah ibunya yang penuh kenangan buruk, dia ingin memulai hidup baru. Ravit mencoba indekos, tapi hal tersebut malah mengingatkannya akan luka lama yang ingin dia hapus. Om Rus pun menawarkan sebuah paket liburan ke Bali, siapa tahu dengan meninggalkan Depok, Ravit bisa keluar dari penjara barunya, yaitu penjara rasa takut.

“Namamu Ravit, bukan?! Aku baca di KTP.” Uci memastikan. “Jadi Ravit, apa pun yang sedang kamu takuti, dari apa pun kamu sedang berlari, Bali bisa membantumu. Kuncinya, kamu hanya harus menemukan jalan yang tepat untuk mengapainya.”
“Be… benarkah?”
Dia mengangguk.
“La… lalu bagaimana caranya menemukan jalan itu?”
“Dengan menemukan orang yang bisa memandumu dengan tepat.”
“Tidak bisa dicari sendirian?”
“Punya peta atau setidaknya kompas?”
Intonasinya datar, bahkan terkesan menyindir. Namun entahlah, bulu kudukku agak meremang. Mata Uci serupa magnet yang tidak membiarkan mataku lepas. Kelamaan darahku berdesir, lubang jarum infus yang tersemat di lenganku terasa berdenyut. Ada esensi lain dari pembicaraan ini.
Aku menggeleng pada akhirnya.
“Aku bisa memandumu. Ada banyak tempat di Bali yang tidak masuk dalam tur wisata mana pun. Mungkin, tempat-tempat itu bisa menjadi kompasmu.”

Dari segi genre, buku pertama dan buku kedua yang ditulis Suarcani mungkin kedengaran berbeda, tapi memiliki makna yang sama, yaitu tentang mencari kebahagiaan dan pencarian jati diri. Keduanya pun menggunakan Bali sebagai latar cerita, tempat di mana penulis berasal, jadi jangan heran kalau penulis ‘menguasai medan’. Keduanya pun berbau mistis, walau bisa dibilang buku kedua lebih ceria daripada buku pertamanya ini, ada humornya. Buku ini bisa dibilang cukup gelap, kesedihan tokoh utamanya cukup terasa, gambaran orang yang benar-benar tidak tahu kemana langkahnya berjalan dan selalu diliputi ketakutan bisa dirasakan dengan mudah, baru ketika tokoh Uci masuk, cerita lebih berwarna, ada kalanya sangat serius, ada kalanya sebuah harapan akan muncul, ada senyum yang tersembunyi di baliknya.
Ravit digambarkan orang yang introvert, merasa tidak memiliki masa depan karena kejahatan yang pernah dia lakukan. Masa lalunya mendukung Ravit untuk menarik diri, bagian tersebut sangat menarik buat saya. Uci sebaliknya, dia memiliki suntikan semangat dan yakin kalau Ravit bisa berubah, dia sedikit misterius, sangat tegas dan percaya diri. Jangan harap akan ada kisah cinta muda mudi, ada kisah cinta dalam bentuk yang lain, kok, jadi tenang saja :D.
Banyak kebudayaan dan sesuatu khas Bali yang penulis angkat, hal-hal yang jarang ditemui di kebanyakan buku yang berlatar pulau Dewata ini, mengukuhkan kalau Bali tidak hanya Kuta, ada yang menarik bahkan mistis yang sering terjadi di kehidupan nyata. Misalkan saja ketika dibawa ke daerah Sebatu, kita akan dikenalkan dengan tradisi melukat, menyicipi tuak khas Bali dan melihat dan memahami apa itu kerauhan, berkunjung ke tempat pemujaan atau Asrham, apa itu Tilaka dan Shaktipat, indahnya waterpalaeis atau taman air di Karangasem, dan beberapa tempat serta istilah yang sebelumnya tidak pernah kita dengar sebelumnya. Suarcani mengenalkan Bali lewat sisi yang berbeda.

 

Yang sangat membuat penasaran dengan buku ini adalah alasan dibalik kenapa Ravit dipenjara diusia yang masih sangat muda, bagian itu sukses membuat saya penasaran dan tidak sabar menemukan jawaban. Kejamnya, penulis tidak semudah itu membocorkan secara langsung, sembari Ravit menemukan kompasnya, sesekali penulis akan menceritakan kisah masa lalunya, kembali lagi ke masa sekarang, melanjutkan kisah masa lalunya lagi, dan seterusnya. Semua diceritakan secara runtut dan penuh kesabaran tapi tidak berbelit-belit. Alurnya bisa dibilang cukup cepat. Saya memang sengaja tidak menceritakan isi buku ini secara detail seperti biasanya, karena kelebihan buku ini ada pada proses kehidupan yang dijalani Ravit, apa saja yang dia lakukan di Bali, semua hal tersebut akan lebih terasa efeknya bila dibaca sendiri.

“Kamu tahu, tiga permata hidup yang paling berharga bagi manusia?”
“Satu, kesehatan. Tanpa kesehatan kita tidak akan bisa nyaman dan damai menjalani hidup, meski punya harta melimpah.”
“Kedua, kedamaian dan ketenangan. Dengan hidup damai dan tenang, maka kita bisa mencapai kesejahteraan lahir dan batin.”
“Tiga, cinta kasih yang sejati.”

“Hidupmu bukan hanya untuk berkorban demi masa lalu.”

Kalau kalian mencari cerita setipe Eat, Pray, Love, Five People You Meet in Heaven, atau The Alchemist, buku Satu Mata Panah Pada Kompas yang Buta ini memberikan napas yang sama, mungkin saja dengan membaca buku ini kalian juga menemukan kompas yang selama ini dicari-cari 😀 Recommended bagi siapa saja, memang ada bagian yang cukup dewasa, bukan karena ada adegan kipas, bukan, lebih ke tema lain di buku ini yang tidak bisa saya ceritakan karena nanti mengurangi kenikmatan kejutan, jadi, baca sendiri aja ya XD.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<