Pulang

Pulang

Oleh: Tere Liye
ISBN: 9786020822129
Rilis: 2016
Halaman: 404
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia

Sinopsis

“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.”

Review

Kali ini Tere Liye mengangkat kisah hidup seorang anak rimba bernama Bujang hingga akhirnya ia meraih kesuksesan menjadi seorang jagal nomor satu di keluarga Tong. Bujang adalah anak satu-satunya dari Samad dan Midah. Mereka tinggal di sekitar lereng bukit Barisan jauh di pelosok Sumatra. Mereka bekerja sebagai petani dan hidup terpisah dari keluarga besar karena hubungan Samad-Midah tidak direstui oleh keluarga. Hal itu yang menyebabkan mereka akhirnya diusir dari kampung dan hidup dalam kesulitan ekonomi.

Bujang pernah mendapat siksaan dari Bapak karena ia ketahuan belajar agama dan mengikuti ajaran-ajaran yang diajarka ibunya.

Kenangan masa lalu itu membuat Bujang selalu teringat dan lama-kelamaan kenangan itu tidak bisa terhapuskan dari ingatannya.


Hingga pada suatu hari di masa panen, kampung mereka kedatangan rombongan Tauke Muda-pimpinan tertinggi Keluarga Tong dari kota dengan tujuan memburu babi hutan yang telah meresahkan warga. Atas permintaan dari Tauke Bujang ikut dalam perburuan babi ke hutan.

Semenjak perburuan itu Bujang telah kehilangan rasa takutnya dan berniat untuk bisa pergi ke kota dan bersedia untuk tinggal bersama Tauke Muda untuk merubah masa depannya. Dengan berat hati Mamak mengizinkan kepergian Bujang disertai pesan terakhirnya jikalau suatu saat Bujang tidak kembali. Dan di mulailah babak baru kehidupan Bujang bersama keluarga Tong.

Selama tinggal bersama Keluarga Tong di ibu kota, muncul tokoh-tokoh penting yang menjadi saksi perjalanan hidup Bujang sekaligus tokoh sentral dalam cerita ini antara lain : Tauke Muda, Kopong, Guru Bushi, Salonga, dan.Basyir. Dari keluarga itulah muncul arti nilai disiplin, kerja keras, kebersamaan, dan kesetiaan pada prinsip.

Bujang kian hari tumbuh menjadi pria yang gagah. Tauke Muda mencukupkan segala kebutuhan Bujang dan memberikan pendidikan yang layak dengan mendatangkan Frans si pria asal Amerika sebagai guru agar Bujang bisa menyelesaikan ketertinggalan sekolahnya. Bujang yang sempat menginginkan menjadi tukang pukul sepert bapaknya dulu ditentang oleh Tauke. Tapi Bujang diizinkan berlatih bersama Kopong. Dan bersama dengan Kopong kemampuan ketahanan fisik Bujang dilatih semakin baik layaknya tukang pukul di keluarga Tong. Akhirnya hasil kerja keras Bujang membuahkan hasil setelah ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dan ia juga diangkat menjadi orang nomor satu kepercayaan Tauke Muda dalam menjalankan bisnis hitam keluarga Tong.

Walaupun pahit manis kehidupan telah ia rasakan, masih ada masalah lainnya yang harus dihadapi Bujang menjelang pergantian pimpinan utama keluarga Tong. Di balik kejayaan keluarga Tong sebagai mata rantai shadow economy dunia, ada pihak diluar sana yang berniat menjatuhkan keluarga Tong. Masalah kembali bertambah saat seseorang yang semula sudah dianggap sebagai keluarga berbalik menjadi pengkhianat. Mampukah Bujang mengambil alih kekuasaan keluarga Tong? Sebelum semua menjadi terlambat, mulailah membuka buku ini dan temukan semua jawaban hanya di novel Pulang.

Saat tiba waktu menutup lembar akhir buku ini, saya tidak bisa berhenti terpukau. Unbelieveble! Tere Liye mampu membuat saya jatuh hati dengan tokoh pria dala buku ini. Semula saya sudah terpikat pada sisi heroik dan misterius Ambo Uleng di buku sebelumnya. Tapi keberadaan Bujang melenyapkan Ambo dan memusatkan perhatian saya kepada Bujang.

Ada beberapa poin penting yang menjadi kelebihan dari buku ini, berikut penjelasannya.

1. Pemilihan Tema

Pemilihan tema dalam kisah kali ini sebenarnya merupakan pengembangan dari tema yang hampir sama yang sudah pernah di tuliskan dalam buku sebelumnya. Tere menghadirkan pergolakkan batin tokoh utamanya sebagai inti cerita dan mengemasnya secara menarik dengan menempatkan Bujang sebagai sosok yang berperan penting dalam cerita. Di dalam buku ini Tere Liye menjelaskan pengertian singkat tentang apa itu Shadow Economy. Shadow economy adalam kegiatan ekonomi yang diatur oleh institusi ekonomi pasar gelap dan tidak terdeteksi secara nyata oleh pemerintah maupun masyarakat awam.
Dengan penuturan secara langsung seperti ini, Tere menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan wawasannya kepada para pembaca

2.  Karakter dan Penokohan

Tere selalu menghadirkan bermacam karakter dengan berbagai latar belakang. Semua karakter dijelaskan keberadaannya melalui dialog antar tokoh, narasi dan keterkatikan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Cukup mudah untuk mengikuti setiap kilas balik yang mengungkapkan sisi lain setiap tokohnya. Di dalam buku ini setiap tokoh mendapat porsi yang pas.

Jika di buku Rindu pembaca terkesima dengan tokoh Ambo Uleng, di buku ini pembaca akan terpesona dengan kesempurnaan Bujang. Ia yang dididik secara keras oleh Guru Bushi, Kopong dan Salonga membuat kemampuan fisik Bujang sangat mumpuni. Ditambah lagi dengan kecerdasannya dalam bahasa dan pemecahan masalah semakin menambah keunggulan sosok Bujang. Selain Bujang sebagai tokoh utama terdapat beberapa tokoh lainnya, Kopong si tukang pukul yang sangar tapi setia, Yuki-Kiko-cucu kembar Guru Bushi yang digambarkan sebagai sepasang turis asal Jepang yang berpenampilan eksotis, kadang konyol namun sangat lihai dalam tim. Kemudian pembaca juga akan dibuat kaget dan kesal dengan kemunculan Basyir dan putra tertua Lin.

Tapi dari setiap tokoh yang menjadi favorit saya adalah Salonga. Salonga adalah penembak pistol terbaik di Asia yang direkrut oleh Kopong untuk melatih Bujang setelah kepergian Guru Bushi. Menariknya Salonga adalah tokoh yang pemarah namun sebenarnya berhati baik dan juga cerdik. Uniknya pada saat hari pertama latihan Bujang harus menerima makian Salonga karena tidak mampu menjatuhkan 6 botol kaca dengan 2 peluru.

“Hei!” Salonga mengangkat tangannya, tidak terima dengan kalimatku. “Aku tidak pernah serius saat memaki muridku, Bujang. Aku hanya tidak tahu begaimana menunjukkan betapa pedulinya aku kepada mereka. Tidak semua orang master dalam menyampaikan perasaan.” – hlm 396


3. Penggunaan Plot

Kelebihan lain dari Tere Liye adalah kemampuannya memainkan plot cerita dan membawa pembaca kembali ke masa lalu, menyimpan beberapa kepingan puzzle penting dan menyempurnakan semua kepingan puzzle misteri cerita secara perlahan-lahan. Tapi Tere membuat cerita terasa mudah dan mengalir begitu saja sehingga tidak membingungkan pembaca.

4. Pesan Yang Tersirat

Semua pesan moral yang ingin disampaikan penulis sebenarnya sangat dekat dengan keseharian kita. Seperti ciri khasnya yang sudah terlihat di beberapa buku sebelumnya, Tere Liye menyampaikan nilai luhur dan kebajikan dalam perjalanan hidup setiap tokohnya. Setiap tokoh dibuat realistis dan tetap memiliki kekurangan dalam dirinya. Hal ini yang membuat saya terkesima dengan setiap karakternya hingga mereka seperti terasa hidup.

Bisa dilihat dari sosok Bujang yang dari luar nampak tegar dan pemberani, padahal didalam dirinya tersimpan rasa takut dan keraguan disaat ia harus melepaskan orang-orang yang dicintainya.

Dari beberapa poin tersebut agaknya mampu menutupi kekurangan buku ini yang bisa dibilang wajar dan tidak mengganggu jalannya cerita. Berikut pandangan saya antara lain.
Jika biasanya Tere Liye menghadirkan cerita dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini memberikan pandangan baru dengan penggunaan sudut pandang Bujang sebagai pelaku utama. Dengan ciri khas yang dimiliki penulis, gaya bercerita dengan orang ketiga dirasa akan lebih tepat.
Terakhir, saya tidak mengenali secara spesifik latar tempat talang kampung halaman Samad. Disebutkan di awal cerita bahwa mereka tinggal di sebuah talang di lereng bukit Barisan tapi tidak menyebutkan nama daerahnya. Menurut penelusuran sepentias saya, Bukit Barisan terbentang dari Aceh hingga Sumatera Barat. Jadi mungkinkah kisah ini diangkat dari sebuah rimba jauh dipelosok Sumatera Barat? Mengingat penyebutan julukan Tuanku Imam biasanya digunakan untuk para syahid dan pemuka agama disana,
Kisah ini berusaha menunjukkan tentang arti kedamaian pada diri sendiri. Melenyapkan sisi buruk yang terpendam dalam hati dan menyadarkan tentang panggilan Tuhan yang sebenarnya. Masa lalu yang pernah menjadi bagian dari kehidupan setiap manusia baik itu kenangan yang manis ataupun buruk hendaklah kita menerimanya dengan hati yang lapang.

Nyaris tidak ada satu pun karya Tere Liye yang mengecewakan bagi saya. Pembaca yang sudah membaca karya Tere Liye lainnya mungkin akan sependapat dengan saya bahwa buku ini sangat tepat untuk pembaca yang sedang mencari buku yang bisa dibawa untuk menemani sekaligus menginspirasi.

Sumber resensi

>> Dapatkan di Bukupedia <<