Dampak negatif dari berkembangnya teknologi internet saat ini adalah munculnya kabar-kabar bohong atau hoax yang menyebar melalui media online atau bahkan pesan-pesan yang masuk di ponsel kita. Hoax yang ada saat ini pun sangat berbahaya, karena sudah masuk ke ranah SARA dan privasi individu.

Hoax kalau dibiarkan jelas tidak baik untuk masyarakat. Yang ada akan timbul perpecahan, adu domba, dan saling menyalahkan.

Berita bohong sebenarnya bisa dicegah atau minimal bisa diminimalkan penyebarannya. Namun yang aneh saat ini adalah banyak hoax yang mudah menyebar di masyarakat. Mengapa ini bisa terjadi? Tentu ada beberapa alasannya.

1. Adanya kebencian

Awal mula munculnya hoax pasti di latar belakangi oleh kebencian, entah itu terhadap salah satu individu atau kelompok. Dan kebencian ini juga dirasakan oleh beberapa kalangan masyarakat. Nah melihat kebencian ini ada di kalangan masyarakat, muncul oknum yang memang ingin membuat hoax. Kemudian hoax tersebut disebar ke orang-orang yang punya kebencian sama.

Akhirnya karena dari awal sudah merasa benci, berita yang ada di depannya langsung saja dibagikan ulang tanpa melihat kebenarannya. Berita hoaks pun menyebar.

Inilah mengapa kita tidak boleh menyimpan kebencian di dalam hati kita. Sebagai manusia wajar kita beda pendapat atau merasa dikecewakan, akan tetapi jangan sampai itu membuat rasa benci timbul di diri kita. Karena apabila kebencian sudah melekat di hati, apapun yang dilakukan orang atau kelompok yang kita benci akan kita akan buruk.

Dan yang ada kita hanya akan selalu terbawa emosi negatif.

Berhati-hatilah jika diri kita sudah mulai ada rasa-rasa benci. Segera hilangkan rasa itu dan terus berpikir positif.

2. Tidak adanya kemauan untuk belajar

Kami tidak ingin mengatakan kalau masyarakat kita bodoh, kami rasa itu kurang tepat. Tetapi menurut kami sebagian masyarakat kita masih kurang kemauannya untuk belajar. Banyak yang beranggapan bahwa kalau sudah tidak sekolah putuslah untuk belajar.

Padahal belajar itu sangat penting. Dengan belajar kita akan menjadi seseorang yang lebih dewasa dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

Di era teknologi sekarang ini dimana semua orang sudah bisa menggunakan smartphone dan internet di kesehariannya, juga perlu diimbangi dengan kemauan untuk belajar. Ponsel yang kita gunakan sudah pintar, namanya saja smartphone (ponsel pintar), tentu kita sebagai pengguna juga tidak boleh kalah pintar dari perangkat yang kita gunakan.

Caranya bagaimana? Yaitu belajar menggunakannya dengan bijak. Dengan smartphone kita sudah bisa mencari informasi lewat internet, gunakan itu untuk mencari kebenaran dari sebuah informasi yang datang. Apakah itu benar-benar informasi yang valid benar atau hanya hoaks.

Kalau kita dapat broadcast pesan melalui WhatsApp, jangan asal bagikan ulang ke pengguna lain. Cermati dulu apa isi pesannya, masuk logika tidak, cek kebenarannya lewat internet atau sumber yang terpercaya.

Kami rasa meskipun sekarang banyak berita hoaks, tetap saja masih banyak berita yang benar. Jadi Anda tetap bisa mencarinya sendiri melalui internet. Kembali lagi, mau atau tidak Anda belajar dengan media dan perangkat yang Anda miliki.

Jangan hanya sekadar menjadi pengguna yang asal menggunakan media tanpa diimbangi dengan belajar. Akan bahaya jika seperti itu.

3. Malas membaca

Sudah menjadi hal nyata jika masyarakat kita itu mayoritas masih malas membaca, terlebih membaca buku. Padahal dengan membaca itu kita akan mendapatkan banyak khasanah baru yang sangat bermanfaat untuk kita. Dan dengan membaca kita akan dapat menangkal kabar-kabar hoaks yang timbul di masyarakat.

Orang yang suka membaca, akan lebih berhati-hati dalam menemukan sebuah informasi yang janggal. Ia tidak akan serta merta membagikannya ke orang lain, tetapi ia akan mengeceknya terlebih dahulu kebenarannya.

Kaitannya dengan membaca, ini juga ada hubungannya dengan literasi digital. Di era digital sekarang ini, masyarakat sangat perlu memahami dan mempelajari soal literasi digital. Karena hampir informasi yang kita dapatkan sehari-hari bersumber dari digital.

Kita perlu tahu mana media online yang benar-benar memiliki berita yang valid, independen, terpercaya dan mana media yang hanya suka menyebarkan hoaks. Kita juga perlu tahu bagaimana model informasi yang hoax itu. Biasanya berita hoaks itu ada bagian-bagian yang diedit dan tidak jelas sumber datanya.

Apa Kesimpulannya?

Jadi bisa disimpulkan bahwa untuk bisa menangkal hoaks itu perlu adanya keseimbangan antara hati dan pikiran. Hati tentu kita tidak boleh memiliki rasa benci dan yang membuat kita memandang negatif orang lain. Perasaan seperti itu perlu dihilangkan dan dibersihkan dari hati kita. Kemudian dari sisi pikiran kita perlu belajar, perlu menambah khasanah wawasan kita agar kita dapat lebih dewasa dalam pemikiran.

Ini bisa dilakukan dengan membaca buku, diskusi terbuka yang sehat, dan terus ingin belajar hal-hal baru yang bermanfaat.

Anda tidak bisa menemukan penyebar hoaks, tetapi Anda bisa menghentikan penyebaran hoaks, dan itu dimulai dari Anda. Karena salah satu cara hoaks bisa meresahkan masyarakat adalah dengan menyebarnya melalui tangan-tangan yang tak tahu apakah itu benar atau salah.

Inilah yang menjadi tanggung jawab kita di era digital saat ini.