Hoax adalah musuh masyarakat era milenial saat ini. Hoax atau berita bohong kerap terjadi dan sering menimbulkan banyak korban tak bersalah. Kasus baru-baru ini yang masih hangat adalah tentang puluhan orang yang meninggal di India akibat pesan berantai di media Whatsapp yang ternyata adalah berita Hoax.

Institut for Policy Research and Advocacy (ELSAM) menilai bahwa hal ini memiliki dampak mengkhawatirkan. Misalnya, kebebasan berpendapat, berekspresi dan berkumpul menjadi terganggu. ELSAM memaparkan, ada enam faktor mengapa HOAX selalu menghantui dan sulit untuk dibendung. enam faktor itu ialah:

  • Penyebaran disinformasi dilakukan secara terus-menerus dan dalam jumlah masif sehingga mudah dianggap sebagai kebenaran.
  • Masih rendahnya tingkat literasi di dunia media dan digital yang membuat masyarakat mudah dan cepat percaya terhadap informasi tanpa melakukan verifikasi.
  • Kesamaan pandangan dalam hal tertentu, misalnya politik. Masyarakat lebih mudah menyerap dan mempercayai informasi karena mereka cenderung mudah percaya terhadap apa yang ingin mereka capai.
  • Relasi supply and chain di mana akses internet dan keberadaan smartphone membuat masyarakat haus akan informasi tertentu. Tragisnya, ada pihak yang sengaja memasok disinformasi sehingga seperti lingkaran setan.
  • Masyarakat sangat mudah terpicu judul konten yang menarik dan ‘lebay’ di social media tanpa membacanya dulu, menonton atau mendengarkan konten yang mereka bagi secara seksama atau tanpa melakukan verifikasi terlebih dulu.
  • Masyarat mulai tidak mempercayai beberapa media, karena dianggap bias secara politik atau karena kepemilikan. Hal ini berbanding terbalik dengan meningkatnya kepercayaan terhadap media sosial yang justru informasinya belum tentu benar.

Terkait faktor-faktor di atas, ELSAM memiliki beberapa rekomendasi yang mungkin bisa diterapkan jika semua pihak mau ikut berpartisipasi terutama pihak pemerintah. Beberapa di antaranya:

  • Pemerintah wajib melakukan penegakan hukum selektif untuk kasus penyebaran hoax, fake news.
  • Kebijakan dan perundang-undangan wajib dikaji ulang agar bisa memberi respon terhadap maraknya disinformasi.
  • Perlu adanya kebijakan yang mengikat dan terlembaga dengan baik.
  • Perlu ada perubahan kurikulum pendidikan yang memastikan literasi digital berlangsung secara sistematis dan simultan.
  • Perlu ada lembaga rujukan terpercaya yang mampu memberikan informasi secara utuh dan obyektif.

Hoax adalah musuh bersama. Kita sebagai manusia yang hidup di era di mana hoax selalu menghantui, harus cerdas dan cermat dalam menerima dan memilih informasi yang kita terima. Informasi adalah kebutuhan manusia. Namun, informasi yang salah dapat menyesatkan hingga merugikan banyak pihak.