Mungkin sebagai penulis, kamu juga tidak hanya perlu mengetahui informasi persoalan tentang buku dan teknis penulisan saja. Ada kalanya kamu perlu mengetahui hal-hal teknis lain di luar buku tetapi yang masih berkaitan dengan proses pembuatannya. Salah satunya adalah mengetahui perbedaan cetak offset dan cetak digital.

Ini penting, agar ketika kamu nanti ingin menerbitkan buku sendiri secara indie, kamu bisa memilih percetakan yang sesuai dengan kebutuhan kamu.

Untuk saat ini ada dua pilihan proses cetak buku, yaitu secara offset dan digital.

Offset dan digital printing ini adalah teknik cetak. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Namun, keduanya sama-sama bisa difungsikan sesuai dengan kebutuhan.

Apa itu Cetak Offset?

Cetak offset ini adalah teknik cetak yang sudah banyak didengar. Karena ya memang sudah sejak dulu teknik cetak ini ada. Bahkan sudah banyak perusahaan percetakaan yang menggunakan teknik cetak offset.

Kalau bicara soal teknis, cetak offset ini prosesnya cukup lama. Karena sebelum dilakukan pencetakan ke media (kertas), perlu dibuat dulu plat cetak atau film kemudian mengatur tinta yang ada di mesin secara manual. Tintanya pun masih menggunakan tinta basah, sehingga proses pengeringan juga memakan waktu.

Offset

Bisa dikatakan cetak offset ini adalah teknik konvensional.

Meski tergolong teknik lama, faktanya masih banyak yang menggunakan yang memang masih banyak peminatnya. Biaya cetak offset ini tergolong masih relatif murah karena dalam sekali cetak langsung dalam kuantitas besar. Sangat jarang atau bahkan tidak pernah proses cetak offset hanya untuk satu dua buku. Sangat rugi di ongkos produksi.

Dari segi hasil, meski tergolong konvensional, masih sangat bagus. Bisa dikatakan hasilnya berkualitas khususnya dari sisi ketebalan warna yang konsisten. Inilah mengapa hingga saat ini cetak offset masih sangat diandalkan untuk kebutuhan skala cetak besar.

Sayangnya, karena masih menggunakan tinta basah, alhasil outputnya juga berupa limbah. Dan inilah yang tidak membuat ramah lingkungan.

Cetak Digital

Sebenarnya digital printing juga sudah lama, namun ini termasuk cara baru. Karena prosesnya memang sudah menggunakan alat yang berbasis teknologi dan digital. Teknik ini juga sebagai perkembangan dari teknik offset yang sudah ada sejak awal.

Meskipun menggunakan digital atau teknologi terbaru, tetap saja cetak digital ada beberapa kekurangan. Namun, dibalik kekurangan itu, cetak print on deman menjadi solusi bagi perorangan atau perusahaan yang ingin mencetak buku dalam skala kecil.

Kelebihan digital printing ini adalah bisa melakukan cetak berapa pun, satuan pun bisa. Karena memang dari segi alat juga sangat mendukung. Nah, ini yang jadi solusi bagi beberapa penulis indie yang ingin menerbitkan buku sendiri dengan jumlah cetakan sedikit.

Sayangnya, dari segi biaya produksi justru lebih tinggi. Tapi ini berlaku jika mencetak dalam kuantiti yang sedikit. Sebenarnya sama saja, kalau ingin cetak sedikit dengan offset jatuhnya juga tinggi biayanya.

Karena menggunakan proses digital, waktu produksi sangat cepat sekali. Tidak perlu lagi membuat plat untuk cetak, atau film, cukup diolah melalui media komputer dan langsung printing.

Cetak digital bisa melakukan pencetakan satuan dan waktunya cetak, maka wajar jika banyak yang mengatakan kalau proses cetak ini adalah Print on Demand (Cetak sesuai permintaan). Di Bukupedia sendiri juga melayani pencetakan buku secara Print on Demand dan banyak koleksi buku-buku Print on Demand.

Salah satu kekurangan cetak digital adalah kadang tidak ada konsistensi warna dalam setiap cetakannya. Namun itu tidak mempengaruhi secara signifikan. Biasanya alat cetak digital yang digunakan untuk cetak buku, maksimal hanya biasa ukuran A3+ dengan gramatur kertas maksimal 270 gsm.