Fiksi adalah cerita rekaan yang tidak perlu sumber fakta yang nyata. Cerita fiksi membutuhkan imajinasi dan pengetahuan yang kuat agar bisa diterima oleh pembaca. Karena nantinya pembaca juga akan dipaksa untuk berimajinasi saat membacanya.

Seorang penulis fiksi harus memiliki mindset yang luas agar bisa membangun cerita yang menarik. Karena jika hanya mengandalkan imajinasi saja, maka cerita akan berupa potongan-potongan imajinasi yang tidak ada penghubungnya.

Nah, dalam menulis cerita fiksi, ada 5 hal yang wajib dimiliki dalam ceritanya. Mari kita bahas.

1. Alur Cerita

Alur cerita ini merupakan jalan cerita, semua cerita fiksi harus mempunyai alur cerita yang jelas. Di dalam dunia penulisan fiksi, alur cerita ada beberapa macam, yakni Alur Maju, Alur Mundur (flashback), dan alur maju mundur.

Penulis bebas memilih yang mana tergantung cerita yang akan disampaikan.

Sebelum masuk ke alur cerita, penulis perlu memiliki gambaran jalan cerita secara umum dulu. Untuk itu perlu membuat outline. Dengan membuat outline, maka akan mempermudah alur cerita bisa mengalir dengan baik. Jika sudah membuat outline, baru dibangun melalui dialog atau narasi untuk mengalirkan cerita.

2. Latar Cerita / Setting

Poin kedua adalah perlu memiliki latar cerita atau mudahnya tempat agar alur cerita bisa lebih hidup. Latar cerita ini bisa apa yang ada di dunia nyata bisa juga berupa fantasi. Kita lihat saja cerita Harry Potter, di cerita ini latarnya jelas fantasi karena tidak ada di dunia nyata.

Latar cerita ini akan menguatkan alur cerita. Misalnya cerita tentang masa lampau, berarti latar cerita juga perlu disesuaikan dengan kondisi zaman dulu.

Dalam menulis fiksi, kondisi latar cerita ini perlu disampaikan dengan kalimat-kalimat agar pembaca tahu.

3. Penokohan

Sudah ada alur cerita, latar cerita, kemudian yang perlu ada adalah penokohan. Penulis harus membuat tokoh dan dibuat karakternya bagaimana. Penokohan ini dimulai dari wataknya, kebiasaannya, hingga gaya berpakaiannya.

Agar pembaca bisa membayangkan setiap tokohnya dengan mudah, penulis harus mendeskripsikan penokohan ini dengan jelas.

4. Konflik

Sebuah cerita fiksi harus ada konflik. Konflik ini adalah bumbu dalam sebuah cerita. Masakan kalau tidak pakai bumbu pasti hambar, begitu juga cerita. Dalam menciptakan konflik, tergantung penulis mau dibuat bagaimana dan tidak harus satu konflik. Lebih banyak konflik tidak masalah, asal alurnya jelas.

Dari sisi pembaca, adanya konflik membuat pembaca lebih antusias dalam membacanya.

Ciri dari konflik ini adalah adanya emosi di tokoh-tokoh yang bersangkutan.

5. Ending

Kalau sudah ada konflik, jangan lupa berikan ending. Ya meskipun ending dalam cerita ini tidak ‘diharuskan’ juga tetapi dengan memiliki ending maka cerita akan lebih menarik.

Ending bisa bahagia, atau sedih dan letaknya tidak harus di akhir cerita. Bisa saja di tengah atau di depan. Akan tetapi jika penulis ingin meletakkan ending di depan atau tengah, artinya harus mempersiapkan alur yang benar-benar matang.

Itulah 5 hal yang wajib ada dalam cerita fiksi. Masing-masing bisa kamu pelajari lagi. Banyak buku fiksi yang bisa kamu jadikan referensi. Selamat menulis!